TUGAS PORTOFOLIO 4

MAKALAH

PENGEMBANGAN KREATIVITAS & KEBERBAKATAN

TUGAS PORTOFOLIO 4

Tugas ini dibuat untuk memenuhi nilai tugas Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan

UG - Lambang Gunadarma

Dosen Pengajar :

NITA SRI HANDAYANI, SPsi

Disusun Oleh :

LAILATUN NAFILLAH (15514967)

PRISKILA THEODORA (18514533)

RANNY KHOIRUNISA (18514928)

1PA15

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2015

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji dan syukur penulis haturkan  kehadirat ALLAH SWT, atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Tugas Portofolio 4”.

Makalah ini dibuat dalam rangka memahami teori-teori mengenai pembelajaran anak berbakat serta segala yang berkaitan dengannya. Selain itu, tugas ini dibuat untuk melaksanakan tugas sebagai seorang mahasiswa, serta untuk memenuhi nilai tugas Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan. Dalam proses pembuatan makalah ini tentu penulis mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran. Untuk itu penulis ucapkan terima kasih kepada Ibu Nita Sri Handayani, SPsi selaku dosen Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan serta rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan aspirasinya dalam pembuatan makalah.

Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.

Bekasi, Juni 2015

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

 A. LATAR BELAKANG

Perhatian terhadap pendidikan anak berbakat sebenarnya sudah dikenal sejak 2000 tahun yang lalu. Pengembangan sumber daya manusia berkualitas yang mampu mengantar Indonesia ke posisi terkemuka, atau paling tidak sejajar dengan negara-negara lain pada hakikatnya menuntut komitmen akan dua hal, yaitu: 1) Penemukenalan dan pengembangan bakat-bakat unggul dalam berbagai bidang, dan 2) penumpukan dan pengembangan kreativitas -yang pada dasarnya dimiliki setiap orang- tapi perlu ditemukenali dan dirangsang sejak usia dini.

Seorang anak dikatakan anak luar biasa karena ia berbeda dengan anak-anak lainnya. Perbedaan terletak pada adanya ciri-ciri yang khas yang menunjukkan pada keunggulan dirinya. Namun, ‘keunggulan’ tersebut selain menjadi sebuah kekuatan dalam dirinya sekaligus menjadi ‘kelemahan’. Yang dimaksud sebagai kelemahan di sini adalah diabaikannya ia sebagai individu yang memiliki hak sama dalam mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dirinya.

Banyak sekolah yang menerapkan sistem loncat kelas atau dapat naik ke kelas berikutnya lebih cepat meskipun waktu kenaikan kelas belum saatnya. Perhatian yang lebih serius dan formal tersurat dalam UUSPN No. 2 Tahun 1989 bahwa peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh pendidikan khusus untuk mengembangkan potensi anak-anak tersebut secara optimal.

Anak berbakat tidak mengalami kecacatan, seperti anak tunanetra, tunarungu, dan tunagrahita. Walaupun di antara anak berbakat ada yang menyandang kelainan, tetapi kelainan itu bukan pada terhambatnya kecerdasan. Agar anak berbakat yang mempunyai potensi unggul tersebut dapat mengembangkan potensinya dibutuhkan program dan layanan pendidikan secara khusus. Mereka lahir dengan membawa potensi luar biasa yang berarti telah membawa kebermaknaan hidup. Oleh karena itu, tugas pendidikan adalah mengembangkan kebermaknaan tersebut secara optimal sehingga mereka dapat berkiprah dalam memajukan bangsa dan negara. Maka dalam makalah ini akan membahas tentang pendidikan anak berbakat.

B. BATASAN MASALAH

  1. Apakah pengertian anak berbakat?
  2. Apa saja ciri-ciri anak berbakat?
  3. Bagaimana cara identifikasi anak berbakat?
  4. Bagaimana Implikasi dalam pembelajaran (teori Barbe dan Renzulli)?
  5. Bagaimana kurikulum berdiferensiasi untuk anak berbakat?
  6. Apa saja faktor-faktor terwujudnya bakat?
  7. Apa saja jenis-jenis bakat?
  8. Bagaimana strategi, model dan evaluasi pendidikan anak berbakat?
  9. Apa saja permasalahan yang dapat terjadi pada anak berbakat?
  10. Apa saja prinsip penyelenggaraan pendidikan anak berbakat?
  11. Siapa saja pihak yang berperan pada anak berbakat?

C. TUJUAN PENULISAN

  1. Mengetahui pengertian anak berbakat.
  2. Mengetahui ciri-ciri anak berbakat.
  3. Memahami cara identifikasi anak berbakat.
  4. Mengetahui implikasi dalam pembelajaran (teori Barbe dan Renzulli).
  5. Mengetahui kurikulum berdiferensiasi untuk anak berbakat.
  6. Mengetahui faktor-faktor terwujudnya bakat.
  7. Mengetahui jenis-jenis bakat.
  8. Memahami strategi, model dan evaluasi pendidikan anak berbakat.
  9. Memahami permasalahan yang dapat terjadi pada anak berbakat.
  10. Mengetahui prinsip penyelenggaraan pendidikan anak berbakat
  11. Mengetahui pihak yang berperan pada anak berbakat.

D. MANFAAT PENULISAN

  1. Menambah wawasan mengenai pembelajaran anak berbakat serta segala yang berkaitan dengannya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ANAK BERBAKAT

Pengertian bakat atau aptitude berbeda dengan kemampuan (ability) dan prestasi (achervement). Bakat diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih agar dapat terwujud. (Munandar dalam Psikologi Umum,180). Bakat adalah kemapuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau ketermapilan yang relative bisa bersifat umum ataupun khusus. (Alex Sobur,181)

Kemampuan adalah daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat dilaksanakan sekarang dan dikembangkan dimasa mendatang apabila kondisi latihan dikemukanan secara optimal sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan di masa yang akan datang.

Bakat menentukan prestasi sesorang. Misalnya orang yang memiliki bakat matematika dan diperkirakan akan mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang itu. Jadi prestasi merupakan perwujudan dari bakat dan kemapuan. Prestasi yang sangat menonjol dalam salah satu bidang, mencerminkan bakat yang unggul dalam bidang tertentu.

Anak berbakat anak-anak yang diidentifikasi oleh orang-orang profesional, yang karena kemampuannya yang sangat menonjol, dapat memberikan prestasi yang tinggi.

Syamsu Yusuf dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, 158 mengatakan bahwa anak berbakat adalah mereka yang tingkat integelensinya jauh diatas rata-rata anggota kelompoknya, yaitu IQ diatas 120. Ahli lain yang menggunakan IQ sebagai kriteria dalam menentukan anak berbakat adalah, Terman yang konsepnya mengenai keberbakatan hampir sekitar setengah abad mendominasi psikologi dan pendidikan. Torrance melaporkan hasil studinya mengenai kemampuan berfikir kreatif dalam kaitannya dengan keberbakatan. Ia mengemukakan bahwa apabila keberbakatan semata-mata diidentifikasi berdasarkan taraf intelegensi, maka sekitar 70% anak-anak yang tinggi kreatifitasnya tidak akan termasuk ke dalam kelompok mereka yang disebut anak berbakat.

Munandar dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan mengemukakan anak berbakat itu lebih mengacu kepada anak yang menunjukkan kemampuan unjuk kerja yang tinggi dalam aspek intelektual, kreativitas, seni, kepemimpianan atau bidang akademik tertentu.

Dari beberapa pendapat ahli maka anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan yang lebih menonjol dari aspek intelektual, kreatif, seni, kepemimpianan atau bidang akademik tertentu yang menghasilkan prestasi tinggi.

Istilah yang melukiskan anak-anak berbakat, cerdas atau cemerlang yaitu genius, talented, gipted dan bright atau superior. Persamaan dari istilah-istilah tersebut adalah penyimpangan ke atas dari rata-rata. Sedangkan perbedaannya adalah:

  1. Genius digunakan pada mereka yang memiliki kemampuan unggul berhasil mencapai prestasi yang luar biasa, memberikan sumbangan yang orisinal dan bermutu, serta mempunyai makna yang universal atau mantap.
  2. Talented suatu bakat khusus yang tidak selalu menghasilkan prestasi yang luar biasa, tidak perlu orsini atau dampak yang universal.
  3. Gipted atau berbakat mempunyai kesamaan dengan genius, karena keduanya berkaitan dengan kualitas intelektual, namun berbakat belum tentu terwujud dalam suatu karya unggul yang mendapat pengakuan universal. Jadi tidak semua anak berbakat merupakan anak genius.
  4. Bright atau superior merujuk pada karakteristik seseorang yang memiliki intelegensi yang tinggi.

Menurut Marland dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan tinggi dalam aspek:

  1. Kemampuan umum yang tinggi, yaitu kecerdasan individu yang berada pada posisi di atas rata-rata.
  2. Bakat akademik khusus, yaitu kemampuan individu dalam bidang-bidang tertentu seoerti bahasa dan matematika.
  3. Kreatif dan berfikir produktif, yaitu kemempuan yang menghasilkan gagasan baru dengan memadukan elmen-elmen yang biasanya dianggap sebagai suatu yang terpisah-pisah atau tdak sejenis dan keampuan mengembangkan keterampialan baru yang mengandung nilai-nilai sosial.
  4. Kepemimpianan, yaitu kemampuan untuk mengarahkan individu-individu atau kelompok untuk mengambil keputusan, memetapkan tindakan bersama atau mencapai tujuan tertentu.
  5. Eampuan dalam bidang seni, yaitu memiliki bakat khusus dalam bidang seni rupa, musik, tari, lukis, drama dan lainnya.

Sementara menurut Renzulli dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan mengemukakan bahwa ada tiga dimensi yang menandai keberbakatan, yaitu:

  1. Kecerdasan, kemampuan umum yang biasanya diukur dengan tes intelegensi di atas rata-rata.
  2. Kreativitas, kemampuan memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.
  3. Komitmen terhadap tugas, tanggung jawab, semangat, atau motivasi yang tinggi untuk menyelesaikan suatu tugas.
  4. Keterkaitan antara tiga ciri keberbakatan itu dapat digambarkan menggunakan diagram.

B. CIRI-CIRI ANAK BERBAKAT

Anak berbakat itu memiliki karakteristik yang menonjol dalam aspek-aspek kesiagaan mental, kemampuan pengamatan, keinginan untuk belajar, daya konsentrasi, daya nalar, kemampuan membaca, ungkapan verbal, kemampuan menulis, kemampuan mengajukan pertanyaan yang baik, menunjukan minat yang luas, berambisi untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi, mandiri dalam memberikan pertimbangan, dapat memberikan jawaban yang tepat dan langsung kesasaran, mempunyai rasa humor yang tinggi, melibatkan diri sepenuhnya dan ulet menghadapi tugas yang diminati.

Menurut Balitbang Depdiknas (1986) mengungkapkan ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan, kreativitas, dan komitmen terhadap tugas:

  1. Lancar berbahasa ( mampu mengutarakan pikirannya)
  2. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan
  3. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berpikir logis dan kritis
  4. Mampu belajar/bekerja secara mandiri
  5. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa)
  6. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya
  7. Cermat atau teliti dalam mengamati
  8. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah
  9. Mempunyai minat yang luas
  10. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi
  11. Belajar dengan cepat
  12. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat
  13. Mampu berkonsentrasi
  14. Tidak memerukan dorongan (motivasi) dari luar.

Selanjutnya Utami Munandar, 2004 mengemukakan karaktersistik atau ciri-ciri anak berbakat itu sebagai berikut:

  • Belajar

Mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata luas, penalaran tajam, daya konsentrasi baik, ungkapan diri lancar dan jelas, cermat dalam pengamatan, memacahkan masalah dan cepat dalam menemukan kesalahan.

  • Kreativitas

Dorongan ingin tahu besar sering mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak usulan atau gagasn terhadap suatu maslah, bebas dalam menyampaikan pendapat, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, daya imajinasi kuat, orisinalitas tinggidan senang mencoba hal-hal yang baru.

  • Motivasi

Tekun menghadapi tugas, ulet dalam menghadapi kesulitan, tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami pengetahuan yang dipelajari didalam kelas, selalu berusaha untuk berprestasi sebaik mungkin, dapat mempertahankan pendapatnya, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini dan senang mencari dan memecahkan soal-soal.

  • Psikososial

Senang dipilih menjadi pemimpin atau ketua, disenangi oleh teman sekelas, dapat bekerja sama, dapat mempengaruhi teman-temannya, mempunyai inisiatif, rasa tanggung jawab besar, percaya pada diri sendiri, mudah menyesuaikan diri terhadap situasi di sekolah, aktif berpartisipasi dalam kegiatan social di sekolah dan senag membantu orang lain.

Menurut Dedi Supriadi, anak berbakat memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak normal, karakteristik anak berbakat meliputi:

  1. Memiliki kelebihan yang menonjol dalam kosa kata
  2. Memiliki informasi yang kaya
  3. Cepat menguasai bahan pelajaran
  4. Cepat dalam memahami hubungan antar fakta
  5. Mudah memahami dalil-dalil atau formula-formula
  6. Memiliki ketajaman dalam menganalisis sesuatu
  7. Gemar membaca
  8. Peka terhadap situasi yang terjadi di sekelilingnya
  9. Bersifat kritis
  10. Memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar

Karakteristik yang positif anak berbakat, yaitu sebagai berikut:

  1. Belajar dengan cepat/mudah
  2. Dapat Membaca secara insentif
  3. Memiliki perbendaharaan kata yang luas
  4. Memiliki banyak informasi
  5. Memiliki perhatian yang cukup lama
  6. Memiliki rasa ingin tahu atau interes terhadap berbagai hal
  7. Bekerja secara mandiri
  8. Senang mengamati
  9. Memiliki rasa humor
  10. Mengerti atau mengenal hubungan-hubungan
  11. Memiliki prestasi akademik yang tinggi
  12. Lancar dalam berbahasa
  13. Individualistik
  14. Memiliki motif intrinsic

Perilaku yang positif anak berbakat, yaitu sebagai berikut:

  1. Mengingat dan menguasai fakta-fakta secara cepat
  2. Membaca banyak buku dan menggunakan perpustakaan pribadi
  3. Dapat mengkomunikasikan berbagai gagasan dengan baik
  4. Cepat memingat dan merespon
  5. Menyelesaikan tugas-tugas
  6. Banyak mengajukan pertanyaan, atau memperoleh berbagai gagasan
  7. Merancang sesuatu diluar tugasnya
  8. Mengenal masalah
  9. Dapat menertawakan diri sendiri
  10. Dapat memecahkan masalah-masalah sosial sendiri
  11. Dapat mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan baik
  12. Memiliki perbendaharaan kata yang luas, dan dapat mengarahkan teman sebaya dengan cara yang positif
  13. Senang mempertahankan pendapat sendiri, dan memiliki sedikit teman
  14. Memerlukan sedikit bantuan guru.

Pada umumnya anak-anak berbakat berkembang lebih cepat atau bahkan sangat cepat bila dibandingkan dengan ukuran perkembangan yang normal. Hal ini disebabkan anak berbakat memiliki superioritas intelektual, mampu dengan cepat melakukan analisis, dan dalam irama perkembangan yang mantap. Bahkan dalam berfikir mereka sering meloncat dari ukuran berfikir yang normal. Selain potensi intelektual anak-anak berbakat memiliki keunggulan pada aspek psikologis, yang lain, yaitu emosi. Anak-anak berbakat memiliki stabilitas emosi yang mantap sehingga mereka akan mampu mengendalikan masalah-maslah personal. Rasa tanggung jawab mereka yang tinggi serta mempunyai cita rasa humor yang tinggi pula.

Jadi ciri-ciri anak berbakat adalah anak yang berbeda dari anak normal dari aspek kecerdasan, pemahaman dalam belajar, kreativitas, motivasi, komitmen terhadap tugas, dan psikososial.

C. IDENTIFIKASI ANAK BERBAKAT

Untuk mengidentifikasi anak berbakat dapat ditempuh dengan beberapa cara yaitu tes prestasi belajar, tes kecerdasan, tes kreativitas, dan nominasi (oleh guru, orang tua, teman sebaya dan diri sendiri).

Cara lain mengidentifikasi anak berbakat yaitu menggunakan strategi yang dikenal dengan The Generic Gipted Identification Strategy. Melalui strategi ini Clark melakukan dua tahap yaitu penjaringan dan identifikasi. Pada tahap penjaringan dilakukan melalui nominasi (guru, orang tua, teman sejawat dan dirinya sendiri, laporan kemampuan siswa, hasil karya siswa, pekerjaan siswa, observasi, skala/ interior atau tes integelensi kelompok). Sedangkan tahap identifikasi menggunakan tes intelegensi individual, tes prestasi, tes kreativitas, tes bakat seni dan lain-lain.

Di Indonesia identifikasi anak berbakat dilakukan untuk merekrut mereka menjadi peserta program akselarasi, atau percepatan belajar. Untuk menjaring siswa yang berkemampuan unggulan ini, Depdiknas menentukan syaratnya.

D. IMPLIKASI DALAM PEMBELAJARAN (TEORI BARBE DAN RENZULLI)

Menjelaskan dan menerapkan teori anak berbakat dari Barbie dan Renzulli :

Menurut definisi yang dikemukakan Joseph Renzulli (1978), anak berbakat memiliki pengertian, “Anak berbakat merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang menyatu ikatan terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas kemampuan rata- rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas dan kreativitas yang tinggi.

  • High Potential Ability (Kecerdasan Tinggi) Standard yang ditetapkan untuk anak berbakat oleh Diknas tahun 2003 adalah 140 . Kalau hasil tes menunjukkan IQ anak mencapai 140 ke atas, maka anak itu otomatis disebut gifted child. Tetapi kemudian muncul pembagian tertentu untuk anak berbakat dilihat dari IQnya. Keberbakatan ringan (IQ 115 – 129), keberbakatan sedang (IQ 130 – 144), keberbakatan tinggi (IQ 145 ke atas).
  • Task Commitment adalah sejauh mana tanggung jawab dalam meyelesaikan tugas. Tidak hanya tugas dari sekolah tapi juga tugas di rumah. Task commitment dapat diukur melalui tes tertentu yang hanya boleh dilakukan oleh psikolog. Task commitment ini mencakup tanggung jawab, motivasi, keuletan, kepercayaan diri, memiliki tujuan yang jelas sebelum melakukan sesuatu dan kemandirian.
  • Kreativitas bisa diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru atau kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru dari yang sudah ada. Kreativitas dapat dinilai dari 4 hal, produk, pribadi, proses dan pencetus / penghambat. Suatu produk dikatakan kreatif kalau produk itu baru, berbeda dari yang sudah ada, lebih baik dari yang lain dan tentu saja berguna. Sifat pribadi kreatif yang lain adalah terbuka pada hal-hal baru, punya rasa ingin tau yang besar, ulet, mandiri, berani mengambil resiko, berani tampil beda, percaya diri dan humoris.

Anak berbakat ialah anak yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan gabungan ketiga sifat ini dan mengaplikasikan dalam setiap tindakan yang bernilai. Anak-anak yang mampu mewujudkan ketiga sifat itu masyarakat memperoleh kesempatan pendidikan yang luas dan pelayanan yang berbeda dengan program-program pengajaran yang reguler (Swssing, 1985).

Pengertian lain menyebutkan bahwa anak gifted adalah anak yang mempunyai potensi unggul di atas potensi yang dimiliki oleh anak-anak normal. Para ahli dalam bidang anak-anak gifted memiliki pandangan sama ialah keunggulan lebih bersifat bawaan dari pada manipulasi lingkungan sesudah anak dilahirkan.

Anak yang memiliki bakat istimewa sering kali memiliki tahap perkembangan yang tidak serentak. Ia dapat hidup dalam berbagai usia perkembangan, misalnya: anak berusia tiga tahun, jika sedang bermain ia terlihat seperti anak seusianya, tetapi jika sedang membaca ia menampilkan sikap seperti anak berusia 10 tahun, jika mengerjakan soal matematika ia seperti anak berusia 12 tahun, dan jika berbicara seperti anak berusia lima tahun.

Perlu dipahami adalah bahwa anak berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering menggunakan cara yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak jarang membuat guru di sekolah mengalami kewalahan, bahkan sering merasa terganggu dengan anak-anak seperti itu. Di samping itu anak berbakat istimewa biasanya memiliki kemampuan menerima informasi dalam jumlah yang besar sekaligus. Jika ia hanya mendapat sedikit informasi maka ia akan cepat menjadi “kehausan” akan informasi.

Implikasi bagi guru anak berbakat disimpulkan oleh Barbie dan Renzulli (1975) sebagai berikut:

  1. Guru perlu memahami diri sendiri, karena anak yang belajar tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tetapi juga bagaimana guru melakukannya.
  2. Guru perlu memiliki pengertian tentang keterbakatan.
  3. Guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak.
  4. Guru memberikan tantangan daripada tekanan.
  5. Guru tidak hanya memperhatikan produk atau hasil belajar siswa, tetapi lebih-lebih proses belajar.
  6. Guru lebih baik memberikan umpan balik daripada penilaian harus menyediakan beberapa alternatif strategi belajar.
  7. Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa harga diri anak serta dimana anak merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat dan keputusan.

E. KURIKULUM BERDIFERENSIASI UNTUK ANAK BERBAKAT

Pengertian kurikulum berdiferensiasi dan kurikulum umum

Kurikulum merupakan metode menyusun kegiatan-kegiatan belajar mengajar untuk menghasilkan perkembangan kognitif, efektif, dan psikomotorik anak. Menurut Sato (1982) kurikulum mencakup semua pengalaman yang diperoleh  di sekolah, di rumah dan dalam masyarakat, dan yang membantunya mewujudkan potensinya. Berbeda dengan kurikulum umum yang bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak pada umumnya, maka kurikulum berdiferensiasi merupakan jawaban terhadap perbedaan-perbedan dalam minat dan kemampuan anak didik. Sehingga, dengan kurikulum berdiferensiasi setiap anak memiliki peluang besar untuk terus meningkatkan kemampuannya tanpa harus terikat oleh satu kurikulum umum yang menyamaratakan kemampuan seluruh anak.

Istilah diferensiasi dalam pengertian kurikulum menunjuk pada kurikulum yang tidak berlaku umum, melainkan dirancang khusus untuk kebutuhan tumbuh kembang bakat tertentu. Kurikulum berdiferensiasi (differ-rentiation instruction) adalah kurikulum pembelajaran yang memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak. Walaupun model pengajaran ini memperhatikan atau berorientasi pada perbedaan-perbedaan individual anak, namun tidak berarti pengajaran harus berdasarkan prinsip satu orang guru dengan satu orang murid. Berbeda dengan kurikulum reguler yang berlaku bagi semua , kurikulum berdiferensiasi bertujuan untuk menampung pendidikan berbagai kelompok belajar, termasuk kelompok  berbakat. Melalui program khusus,  berbakat akan memperoleh pengayaan dari materi pelajaran, proses belajar dan produk belajar.

Meskipun  demikian, pada dasarnya kurikulum berdiferensiasi tetap bertitik tolak pada kurikulum umum yang menjadi dasar bagi semua anak didik. Kurikulum berdiferensiasi juga memberikan pengalaman belajar berupa dasar-dasar keterampilan, pengetahuan, pemahaman, serta pembentukan sikap dan nilai yang memungkinkan anak didik berfungsi sesuai dengan tuntutan masyarakat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Berdasarkan penjelasan di atas, Semiawan (1983) menyatakan bahwa bakat-bakat khusus baru dapat dikembangkan atas dasar kurikulum ini. Di samping itu, untuk dapat mewujudkan bakat yang khusus diperlukan juga pengalaman belajar yang khusus. Sehingga, pendidik juga dapat mengetahui keberbakatan anak dan memantaunya sesuai dengan kurikulum yang telah dideferensiasikan.

Hakekat  pembelajaran  differensiasi

Penanganan anak-anak berbakat atau cerdas dengan program pengayaan dan percepatan penuh banyak memiliki kelemahan-kelemahan yang merugikan anak itu sendiri, maka telah dikembangkan kurikulum alternative yaitu berdiferensiasi (differentiated instruction ). Pendekatan ini menghendaki agar kebutuhan  berbakat dilayani di dalam kelas regular. Program ini menawarkan serangkaian pilihan belajar pada  berbakat dengan tujuan menggali dan mengarahkan pengajaran pada tingkat kesiapan, minat, dan profil belajar yang berbeda-beda.Kurikulum berdiferensiasi sangat penting ditekankan untuk anak berbakat. Kurikulum ini memiliki tiga level kurikulum yaitu:

  1. Prescribed Curriculum and Instruction

Level pertama, prescribed curriculum and instruction adalah kurikulum yang dikembangkan oleh standard lokal dan tidak menyediakan kesempatan untuk strategi belajar yang cocok untuk  berbakat.

  1. Teacher-Differentiated Curriculum

Pada level kedua, teacher-differentiated curriculum, guru memodifikasi kurikulum yang telah ada menjadi kurikulum yang menarik dan menantang untuk berbakat. Disini, murid tidak hanya dipandang sebagai seorang ‘murid’ saja, tetapi murid adalah pembelajar aktif.

  1. Learner-Differentiated Curriculum.

Level ketiga, learner-differentiated curriculum, adalah level tertinggi dimana murid berbakat dianggap sebagai “producers of knowledge”, bukan hanya “consumers of knowledge”. Level ini mendukung perkembangan self-discovery, self-esteem, kreativitas, dan otonomi. Selain perkembangan kognitif, pada level ini jug mengembangkan faktor sosial dan emosional murid.

Dalam kurikulum berdiferensiasi ini, guru menggunakan beberapa kegiatan, yaitu:

a. Beragam cara agar  dapat mengeksplorasi kurikulum

Dalam kaitan dengan pem-belajaran berdiferensiasi, maka para  memiliki kebebasan yang luas untuk mengeksplor kurikulum yang dibutuhkan dan sesuai dengan perkembangan fisik dan mentalnya. Mereka akan memilih dan memilah kurikulum (muatan lokal) yang sesuai dengan kondisinya.

b. Beragam kegiatan atau proses yang masuk akal sehingga  dapat mengerti dan memiliki informasi dan ide

Proses belajar mengajar harus dapat mengembangkan cara belajar untuk mendapatkan, menge-lola, menggunakan dan meng-komunikasikan informasi yang di-perlukan.  harus terlibat secara aktif dalam proses tersebut baik secara individual ataupun kelompok. Keaktifan itu dapat terlihat dari (Suryosubroto, 1996:72) :

  • Berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran dengan penuh keyakinan;
  • Mempelajari, memahami, dan menemukan sendiri bagaimana memperoleh situasi pengetahuan;
  • Merasakan sendiri bagaimana tugas-tugas yang diberikan oleh guru kepadanya;
  • Belajar dalam kelompok;
  • Mencoba akan sendiri konsep-konsep tertentu;
  • Mengkomunikasikan hasil pikiran, penemuan dan penghayatan nilai-nilai secara lisan atau penampilan.

c. Beragam pilihan dimana  dapat mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari

Proses pembelajaran berdiferensiasi harus memberikan ruang yang luas kepada anak didik untuk mendemostrasikan apa- apa yang telah mereka pelajari. Hal ini sangat bermanfaat untuk: Pertama, anak didik belajar menyampaikan atau mengkomunikasikan temuan dan informasi yang dimilikinya; Kedua, anak didik belajar mengapresiasi karya atau infomasi yang disampaikan orang lain (teman); Ketiga, anak didik belajar untuk mendapat masukan, kritikan dan sanggahan terhadap penemuan atau informasi yang disampikan kepada orang lain.

Karakteristik Umum Kurikulum Berdiferensiasi

Pengajaran berdiferensiasi memiliki 4 (empat) karakteristik umum, yaitu:

Ø  Pengajaran berfokus pada konsep dan prinsip pokok materi pelajaran.

Dalam proses pembelajaran berdiferensiasi, pengajaran harus berfokus pada konsep atau pokok materi pelajaran sehingga semua  dapat mengeksplorasi konsep-konsep pokok bahan ajar.  yang agak lambat (struggling learners) bisa memahami dan menggunakan ide- ide dari konsep-konsep yang diajarkan. Sedangkan bagi para  berbakat memperluas pemahaman dan aplikasi konsep pokok tersebut.

Ø  Evaluasi kesiapan dan perkembangan belajar  diakomodasi ke dalam kurikulum.

Kesiapan dan perkembangan belajar  harus dievaluasi untuk dijadikan sebagai dasar keputusan penentuan materi serta strategi pembelajaran yang akan diterapkan. Kapasitas belajar seseorang berbeda dengan orang lain. Oleh karena itu, tidak semua  memerlukan satu kegiatan atau bagian tertentu dari proses pembelajaran secara sama. Guru perlu terus menerus mengevaluasi kesiapan dan minat  dengan memberikan dukungan bila  membutuhkan interaksi dan bimbingan tambahan, serta memperluas eksplorasi  terutama bagi mereka yang sudah siap untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menantang.

Ø  Ada pengelompokan  secara fleksibel.

Dalam pengajaran berdiferen-siasi,  berbakat sering belajar dengan banyak pola, seperti belajar sendiri-sendiri, belajar berpasangan maupun belajar dalam kelompok. Oleh karena itu, pada saat-saat tertentu  dapat diberi kebebas-an untuk memilih materi pelajaran dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan  untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan  adalah pengajaran modul.

Ø  Menjadi penjelajah aktif (active explorer).

Prinsip belajar yang relevan adalah belajar bagaimana belajar (learning how to learn ). Artinya, dikelas target pembelajaran bukan sekadar penguasaan materi, melainkan  harus belajar juga bagaimana belajar (secara mandiri) untuk hal-hal lain. Ini bisa terjadi apabila dalam kegiatan pembelajaran  telah di biasakan untuk berpikir mandiri, berani berpendapat, dan berani bereksperimen, sehingga  tidak merasa terkekang dan potensi kreativitasnya dapat tumbuh dengan sempurna. Tugas guru adalah membimbing eksplorasi tersebut, karena beragam kegiatan dapat terjadi secara simultan di dalam kelas, guru akan berperan sebagai pembimbing dan fasilitator, dan bukannya sebagai dispenser informasi.

Prinsip–prinsip pengajaran berdifferensiasi

  • Prinsip Individualitas

Perbedaan individual merupakan salah satu masalah utama dalam proses belajar-mengajar. Ketidakmampuan guru melihat perbedaan-perbedaan individual anak dalam kelas yang dihadapi akan menyebabkan kegagalan dalam memelihara dan membina interaksi edukatif secara efektif.

Pengajaran individual bukanlah semata-mata pengajaran yang hanya ditujukan kepada seorang raja, melainkan dapat saja ditujukan kepada sekelompok  atau kelas, namun dengan mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan  sehingga pengajaran itu memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing  secara optimal.

  • Prinsip Belajar Tuntas

Belajar tuntas (mastery learning) adalah suatu proses pembelajaran yang mengakui bahwa semua anak memiliki kemampuan yang sama dan bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan untuk mencapai kemampuan tertentu berbeda.  tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar, dan hasil yang baik.

  • Prinsip Motivasi

Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Guru memiliki peran yang besar untuk menumbuhkan motivasi eksternal, diantaranya: Pertama, menggunakan cara atau metode dan media mengajar yang bervariasi; Kedua , memilih bahan yang menarik minat dan dibutuhkan ; Ketiga, memberikan sasaran antara; Keempat , memberikan kesempatan sukses; Kelima, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan; dan Keenam, menciptakan persaingan yang sehat.

  • Prinsip Latar/Konteks

Latar atau konteks mengandung arti bahwa pembelajaran harus dikaitkan dengan situasi dunia nyata , sehingga mendorong  membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai individu maupun anggota keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi.

  • Prinsip Minat dan Kebutuhan

Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang, sedangkan kebutuhan adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh seseorang. Oleh karena itu, minat dan kebutuhan merupakan utama yang menentukan derajat keaktifan belajar . Dengan demikian dalam rangka meningkatkan aktivitas  dalam belajar, maka materi pembelajaran dan cara penyampaiannya pun harus disesuaikan dengan minat dan kebutuhan tersebut.

  • Prinsip Penilaian (Assessment)

Penilaian (assessment) dibagi menjadi dua katagori yaitu: Pertama, informal assessment , biasanya dilakukan oleh guru melalui observasi berbagai keterampilan, dan mempelajari laporan, maupun melalui tes yang dibuat guru untuk mengetahui tingkat penguasaan pelajaran yang telah diajarkan; Kedua, formal assessment yaitu penilaian lewat tes standar seperti tes hasil belajar, tes inteligensi, wawancara dengan orang tua, tes bahasa, kepribadian, kreatif, kemampuan fisik, minat dan sebagainya.

  • Prinsip Terpadu

Artinya penyelenggaraan pembelajaran anak berbakat dikembangkan dan dilaksanakan di sekolah biasa. Anak dengan berbagai perbedaan belajar di ruang kelas yang sama.

  • Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi

Dalam mendiferensiasikan pengajaran, guru bisa melakukan modifikasi terhadap lima unsur kegiatan belajar, yaitu materi pelajaran, proses, produk, lingkungan dan evaluasi.

a. Materi pelajaran

Materi pelajaran dapat dimodifikasi melalui berbagai kegiatan pembelajaran, yaitu:

  • Pemadatan materi pelajaran
  • Studi intradisipliner

b. Kajian mendalam

  • Proses

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh guru untuk memodifikasi proses pengajaran dan pembelajaran, antara lain dengan:

  1. Mengembangkan kecakapan berpikir.
  2. Hubungan dalam dan lintas disiplin
  3. Studi mandiri
  • Produk

Dalam memodifikasi produk, guru dapat mendorong  untuk mendemonstrasikan apa yang telah dipelajari atau dikerjakan ke dalam beragam format yang mencerminkan pengetahuan maupun kemampuan untuk memanipulasi ide. Misalnya daripada meminta  untuk menambah jumlah halaman laporan dari suatu bab, guru bisa meminta  untuk mensintesis pengetahuan yang telah diperoleh.

a. Lingkungan Belajar

Lingkungan dan individu terjalin proses interaksi yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Individu seringkali terbentuk oleh lingkungan, begitu juga sebaliknya lingkungan dibentuk oleh individu (manusia). Pendayagunaan lingkungan sekitar dalam proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, yakni dengan cara membawa lingkungan ke dalam kelas, atau membawa  ke masyarakat.

b. Evaluasi

Memodifikasi evaluasi berarti menentukan suatu metode untuk mendokumentasikan penguasaan materi pelajaran pada siswa berbakat. Guru harus memastikan bahwa  berbakat memiliki kesempatan untuk mendemonstrasikan penguasaan materi pelajaran sebelumnya ketika akan mengajarkan pokok bahasan, topik atau unit baru mata pelajaran.

Cara pengembangan kurikulum berdiferensiasi

Menurut Kaplan (1977), perkembangan kurikulum dewasa ini menekankan penggunaan kurikulum secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan guru dan  yang memungkinkan keragaman cara untuk mencapai sasaran belajar. Bahkan dalam kurikulum semacam ini tidak tertutup kemungkinan bahwa  pada saat-saat tertentu merumuskan sendiri sasaran-sasaran belajarnya. Suatu kurikulum dapat berdiferensiasi melalui materi (konten atau muatan), proses, dan produk belajar yang lebih maju dan majemuk, serta dapat dirancang dengan cara sebagai berikut.

a. Kurikulum berdiriferensiasi menyesuaikan dengan kurikulum umum

  • Menambah hal-hal baru yang menarik dan menantang bagi anak berbakat. Misalnya dengan menambahkan muatan tugas yang dianggap menantang kemampuan yang dimiliki anak berbakat.
  • Mengubah bagian-bagian tertentu yang kurang sesuai. Karena anak berbakat memiliki kemampuan memahami pelajaran dan pengetahuan yang melampaui anak pada umumnya, biasanya pemberian materi kepada anak berbakt lebih menyesuaika kemampuan anak. Sehingga, anada beberapa bagian yang diterima anak umum di kelas tetapi tidak diterima oleh anak berbakat.
  • Mengurangi kegiatan-kegiatan yang terlalu rutin. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, anak berbakat memiliki tingkat kemampuan memahami pelajaran yang lebih tinggi dibandingkan anak umum, jadi beberapa kegiatan atau pelajaran yang dapat dikerjakan sendiri dan tanpa bantuan berarti dari pendidik sebaiknya dikurangi.
  • Meluaskan dan mendalami materi. Karena sifat yang cenderung kurang puas dan mendetail, pemberian materi pembelajaran kepada anak berbakat sebaiknya lebih diluaskan dan mendalam

b. Kurikulum Berdiferensiasi dengan Menggunakan Kurikulum yang Baru atau Khusus

Cara kedua ini adalah dengan menggunakan kurikulum yang benar-benar berbeda dengan anak umum dan disesuaikan dengan keberbakatan anak.

Untuk menyusun sebuah kurikulum, pendidik harus mengetahui beberapa asas kurikulum sebagai berikut:

  1. Berkaitan dengan mata pelajaran. Yaitu, kegiatan bekajar dikaitkan dengan mata pelajaran atau materi tertentu. Contohnya, ketika anak belajar bagian-bagian serangga, anak dapat mencari sendiri serangga-serangga yang akan dipelajarinya di lingkungan sekolah.
  2. Berorientasi dengan proses. Maksudnya, kegiatan belajar mengajar  menekankan perkembangan keterampilan dan proses berpikir daripada hanya materi. Contohnya, ketika anak sudah mengenal bagian-bagian serangga, anak dapat menganalogikan bagian-bagian tersebut dengan bagian-bagian kendaraan.
  3. Berpusat pada kegiatan aktif. Yaitu kegiatan belajar sepenuhnya mengikutsertakan anak secara aktif. Sehingga, dapat menghidupkan suasana keilmuan yang penuh akan diskusi dan saling bertukar pikiran.
  4. Penerapan tugas berakhir terbuka.Dengan asas ini tidak ada istilah “benar” dan “salah” dalam hasil tugas , tetapi seluruhnya berdasarkan pengalaman setiap anak.
  5. Memungkinkan anak memilih. Asas ini memberikan peluang kepada setiap anak sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan masing-masing. Sehingga, sekolah seharusnya menyediakan sarana atas minat dan bakat anak.

c. Perbedaan penerapan kurikulum differensiasi dengan kurikulum umum

  • Konten. Muatan atau materi yang diberikan kepada anak berbekat berbeda-beda sesuai dengan minat dan kemampuan anak.
  • Proses. Proses belajar anak berbakat, entah itu waktu maupun caranya, dibedakan dengan anak umumnya sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
  • Produk. Dalam hal penugasan, anak berbakat diberikan beban produk yang lebuh rumit dan kompleks daripada anak umum. Produk belajar itu sendiri dapat berupa lisan, tulisan, ataupun benda.

F. FAKTOR-FAKTOR TERWUJUDNYA BAKAT

Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa anak-anak berbakat memiliki potensi yang unggul. Potensi ini dapat disebabkan oleh faktor keturunan, yang dilakukan oleh ahli terhadap tingkat keceradasan. Keberbakatan anak dalam proses perkembangannya memerlukan sentuhan dari lingkungan, berupa perawatan, pengasuhan dan pendidikan.

Lingkungan merupan faktor yang juga mempengaruhi perkembangan keberbakaan anak. Melalui lingkungan anak memperoleh apa yang dibutuhkannya, termasuk peluang-peluang yang mendukung teraktualisasikan potensi yang dimilikinya. Faktor lingkungan ini diantaranya menyangkut aspek nutrisi yang dikonsumsi anak dan kenyamanan hidupnya, yang mempengaryhi perkembangan keberbakatan itu, disamping aspek yang bersifat fisik, juga kondisi lingkungan yang bersifat psikologis.

Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi bakat seseorang terwujud yaitu:

  1. Keadaan lingkungan seseorang. Seperti, kesempatan, sarana dan prasarana yang tersedia, dukungan dan dorongan orang tua, taraf sosial, pedesaan, dan sebagainya.
  2. Keadaan dalam diri sendiri. Seperti, minatnya terhadap suatu bidang, keinginannya untuk berprestasi, dan keuletannya untuk mengatasi kesulitan atau rintangan yang mungkin timbul.

G. JENIS-JENIS BAKAT

Yoesoef Noesyirwan dalam Psikologi Umum menggolongkan jenis bakat atau kemampuan menurut fungsi atau aspek-aspek yang terlibat dan menurut prestasinya. Berdasarkan fungsi atau aspek jiwa raga yang terlibat dalam berbagai macam prestasi, bakat dapat dibedakan dalam :

  1. Bakat yang lebih berdasarkan psikofisik

Bakat jenis ini adalah kemampuan yang berakar pada jasmaniah sebagai dasar dan fundamen bakat, seperti kemampuan pengindraan, ketangkasan atau ketajaman panca indra, kemampuan motoriik, kekuatan badan, kelincahan jasmani, keterampilan jari-jemari, tangan dan anggota badan.

  1. Bakat kejiwaan yang bersifat umum

Yang dimaksud dengan bakat jenis ini ialah kemampuan ingatan daya khayal atau imajinasi dan intelegensi. Daya ingat adalah kemampuan menyimpan isi kesadaran pada satu saat dan membawanya kembali ke permukaan pada saat yang lain. Dalam ingatan, jiwa kita bersifat menerima dan reproduktif. Daya khayal merupakan isi kesadaran yang berasala dari dunia dalam kita sendiri, berupa gambar khayalan dan ide-ide kreatif, sehingga jiwa kita bersifat spontan dan produktif. Adapun intelegensi adalah kemampuan menyesuaikan diri pada keadaan dengan menggunakan alat pemikiran yang berbeda dengan penyesuaian diri karena kebiasaan atau sebagai akibat latihan (drill) dan coba-coba (trial and error). Penyesuaian diri karena kebiasaan, drill, dan trial and error, bersifat mekanis, kadang-kadang secara kebetulan memerlukan banyak waktu. Peneyesuaian diri dengan pemikiran terjadi karena pengertian, pendapat pemahaman, pencarian makna dan hubungannya yang tampak dalam pemecahan dan penguasaan keadaan baru dari kesulitan yang dihadapinya. Intelegensi dapat diuraikan sebagai kemampuan menangkap, memahami, menjelaskan, menguraikan, memadukan dan menyimpulkan arti hubungan dan sangkut paut makna. Tiap orang memiliki isi, proses, dan cara berfikir yang berbeda satu dengan yang lainnya.

  1. Bakat-bakat kejiwaan yang khas dan majemuk

Bakat-bakat yang khas atau bakat dalam pengertian yang sempit ialah bakat yang sejak awal sudah ada dan terarah pada suatu lapangan yang terbatas, seperti bakat bahasa, bakat melukis, bakat music, bakat seni, bakat ilmu dan lain-lain. Adapun bakat majemuk yang berkembang lambatlaun dari bakat produktif  kea rah yang sangat bergantung dalam keadaan di dalam dan di luar individu, seperti bakat filsafat, bakat hukum, bakat pendidik, bakat psikologi, bakat kedokteran, bakat ekonomi, bakat politik dan lain-lain.

  1. Bakat yang lebih berdasarkan pada alam perasaan dan kemampuan

Bakat ini berhubungan dengan watak, seperti kemampuan untuk mengadakan kontak sosial, kemampuan mengasihi, kemampuan merasakan atau menghayati, perasaan orang lain.

Berdasarkan sifat prestasinya, bakat dapat digolongkan dalam :

  1. Bakat Reproduktif ialah kemampuan untuk memprodusir hasil pekerjaan orang lain dan menguraikan kembali dengan tepat pengalaman-pengalaman sendiri. Bakat ini berhubungan erat dengan daya ingat.
  2. Bakat Aplikatif ialah kemampuan memiliki, mengamalkan, mengubah dan menerangkan pendapat, buah pikiran yang berasal dari orang lain.
  3. Bakat Interpretatif ialah bakat menerangkan dan menangkap hasil pekerjaan orang lain, sehingga disamping sesuai dengan maksud penciptanya, dalam penjelasan itu juga tampil pendapat atau pendirian pribadi.
  4. Bakat produktif ialah kemampuan menciptakan hal-hal yang aru berupa sumbangan dalam ilmu pengetahuan, pembangunan, dan lapangan kehidupan yang lain yang berharga.

Menurut Howard Gardner, keberbakatan meliputi:

  1. Kecerdasan Bahasa (Linguistic)

Kecerdasan linguistic adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan/pemikirannya. Kecerdasan bahasa berisi kemampuan untuk berfikir dengan kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan arti yang kompleks.

Anak-anak dengan kecerdasan linguistic yang tinggi biasanya sudah bisa dikenali sejak kecil (usia di bawah 4 tahun), misalnya berbicara seperi orang dewasa, tertarik pada buku, mudah mengenali symbol berupa kata-kata (misalnya HONDA, SURYA, KIJANG, dsb), menguasai banyak kata-kata. Dalam perkembangan berikutnya, anak-anak ini menyenangi kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa, seperti: membaca, menulis karangan, menulis puisi, menyusun kata-kata mutiara, pengarang, penyair, wartawan, pembicara, atau pembaca berita. dsb.

  1. Kecerdasan Matematis/Logis

Kecerdasan logis matematis memungkinkan seseorang terampil dalam melakukan hitungan, penghitungan atau kuantifikasi, mengemukakan proposisi dan hipotesis dan melakukan  operasi matematis yang kompleks. Contoh-contoh orang yang memiliki kecerdasan matematis logis adalah ilmuwan, matematikawan, akuntan, insinyur, dan pemrogram computer.

  1. Kecerdasan Spasial

Orang yang memiliki kecerdasan spasial adalah orang yang memiliki kapasitas dalam berfikir secara tiga  dimensi. Contoh – contoh orang yang memiliki kecerdasan spasial  adalah pelaut, pilot, pematung, pelukis daan arsitek. Kecerdasan spasial memungkinkan individu dapat mempersepsikan gambar-gambar baik internal maupun eksternal dan mengartikan atau mengkomunikasikan informasi grafis.

  1. Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan kinestetik tubuh adalahkecerdasan yang memungkinkan seorang memanipulasi objek dan cakap melakukan aktivitas fisik. Contoh-contoh orang yang memiliki kecerdasan kinestetik yaitu atlet, penari, ahli bedah, dan pengrajin.

  1. Kecerdasan Musikal

Kecerdasan musikal dibuktikan dengan adanya rasa sensitif terhadap nada, melodi, irama musik. Orang-orang yang memilki kecerdasan musikal yang baik antara lain; komposer, konduktor, musisi, kritikus musik, pembuat instrumen dan orang-orang sensitif terhadap unsur suara.

  1. Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kapasitas yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat memahami dan dapat melakukan interaksi secara fektif dengan orang lain. Kecerdasan interpersonal akan dapat dilihat dari beberapa oranng seperti; guru yang sukses, pekerja sosial, aktor, politisi. Saat ini orang mulai menyadari bahwa kecerdasan interpersonal merupakan salah satu faktor yang sangat kesuksesan seseorang.

  1. Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan intrapersonal diperlihatkan dalam bentuk kemampuan dalam membangun persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan kemampuan tersebut dalam membuat rencana dan mengarahkan orang lain.

  1. Kecerdasan Naturalis

Keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies-flora dan fauna di lingkungannya. Para pecinta alam adalah contoh orang tergolong sebagai orang-orang yang memiliki kecerdasan ini.

Gardner juga mengelompokkan ketujuh kecerdasan manusia menjadi tiga kelompok yaitu:

  1. Kelompok kecerdasan yang terkait dengan objek (object related) yaitu objek yang dihadapi.
  2. Kelompok kecerdasan bebas objek (object free) yaitu kelompok kecerdasan yang tidak dipengaruhi oleh objek, tapi dipengaruhi  oleh sistem bahasa dan musik yang didengar.
  3. Kelompok kecerdasan yang dipengaruhi hubungan dengan orang lain (person related) yaitu kelompok yang bertalian dengan interaksi dengan orang lain.

H. STRATEGI, MODEL DAN EVALUASI PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT

Pendidikan anak berbakat bertujuan agar anak menguasai sistem konseptual dalam berbagai mata pelajaran, anak mampu mengembangkan keterampilan dan strategi yang memungkinkan mereka menjadi lebih mandiri, keatif dan memenuhi kebutuhannya sendiri, anak harus mengembangkan suatu kesenangan dan gairah belajar yang akan membawa mereka kepada kerja keras. Menurut Depdiknas dalam Syamsu Yusuf tujuan pendidikan bagi anak berbakat adalah sebagai berikut:

a. Tujuan Umum

  1. Memenuhi kebutuhan peserta didik yang memiliki karakterisitik spesifik dari segi perkembangan kognitif dan afektif.
  2. Memenuhi hak asasi peserta didik yang sesuai dengn kebutuhan pendidikan bagi dirinya sendiri.
  3. Memenuhi minat intelektual dan perspektif masa depan peserta didik.
  4. Memenuhi kebutuhan aktualisai diri pesera didik.
  5. Menimbang peran peserta didik sebagai aset masyarakat dan kebutuhan masyarakat untuk pengisian peran.
  6. Menyiapkan peserta didik sebagai pemimin masa depan.

b. Tujuan Khusus

  1. Memberikan pengarahan untuk dapat menyelesaikan program pendidikan secara cepat sesuai dengan potensinya.
  2. Meningkatkan efisien dan efektivitas proses pembelajaran peserta didik.
  3. Mencegah rasa bosan terhadap iklim yang jelas kurang mendukung berkembangnya potensi keunggulan peserta didik secara optimal.
  4. Memacu siswa untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, spiritulal dan emosionalnya secara seimbang.

  1. Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak berbakat sangat mendorong anak tersebut untuk berprestasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan strategi pembelajaran adalah sebagai berikut.

  1. Pembelajaran anak berbakat harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas yang lebih sesuai dengan kemampuannya yang lebih tinggi dari anak normal.
  2. Pembelajaran pada anak berbakat tidak saja mengembangkan kecerdasan intelektual semata, tetapi pengembangan kecerdasan emosional juga patut mendapat perhatian.
  3. Pembelajaran anak berbakat berorientasi pada modifikasi proses, isi/content, dan

Sehubungan  dengan  itu,  M. Soleh  YAI (1996), mengemukakan 3 jenis modifikasi sebagai berikut. Modifikasi  proses  adalah  metodologi  atau  cara  guru  mengajar termasuk  cara  mempresentasikan  isi  materi  kepada  siswa  yang berorientasi  kepada  berpikir  tingkat  tinggi,  banyak  pilihan, mengupayakan penemuan, mendukung penalaran atau argumentasi, kebebasan  memilih,  interaksi  kelompok  dan  simulasi,  serta kecepatan dan variasi proses. Modifikasi  isi  adalah  modifikasi  dalam  materi  pembelajaran  baik berupa  ide,  konsep  maupun  fakta.  Pembelajaran  dimulai  dari  hal yang konkret, menuju ke hal yang kompleks, abstrak dan bervariasi. Modifikasi  produk  atau  hasil  adalah  produk  kurikulum  yang  tidak dapat  dipisahkan  dari  isi  materi  dan  proses  pembelajaran  yang dikembangkan  dan  merupakan  hasil  dari  proses  yang  dievaluasi untuk menentukan efektivitas satu program.

  1. Model Pembelajaran

Pendidikan bagi anak berbakat dapat dilaksanakan dengan berbagai model, seperti akselarasi, pengayaan dan pengelompokan berdasarkan kemampuan.

a. Model Akselarasi atau percepatan

Akselarasi tidah hanya diartikian sebagai cara untuk mempercepat penyelesaian studi agar lulus lebih awal, tetapi lebih menekankan kepada kebutuhan belajar siswa berbakat agar meningkatkan produktivitas, efisiensi dan evektivitas belajar mereka, percepatan yang terjadi dalam belajar tanpa intervensi pendidikan dan mengurangi kebosanan atau kejenuhan dalam belajar.

Model akselarasi dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk, meliputi:

1) Loncat kelas

Usia mental para anak berbakat lebih tinggi dari usia sebenarnya, maka mudah timbul perasaan tidak puas belajar bersama dengan anak-anak seumurnya. Meskipun banyak aspek perkembangan lain pada anak ternyata memang lebih maju daripada anak-anak seumurnya misal aspek sosial. Akan tetapi cara percepatan dengan meloncat anak pada kelas-kelas yang lebih tinggi dianggap kurang baik, antara lain karena mempermudah timbulnya masalah-masalah penyesuaian, baik di sekolah, dirumah maupun dilingkungan sosialnya. Kecuali norma yang dipakai adalah norma yang diikuti bukan norma dari anak berbakat itu sendiri.

2) Percepatan melalui pelayanan individual

Cara ini tergolong cara yang baik karena diberikan berdasarkan keadaan, kebutuhan dan kemampuan anak itu sendiri. Kesulitannya ialah pengaturan andsminitrasi sekolah yang meliputi pengaturan-pengaturan tenaga pengajar karena hanya memberikan pelajaran secara individual kepada anak. Pada anak sendiri dikhawatirkan akan timbul kesulitan dalam penyesuai diri, baik sosial maupun emosional karena terbatasnya hubungan-hubungan sosial dengan teman-teman sebaya.

3) Mengikuti pembelajaran di kelas yang lebih tinggi

Siswa memiliki peluang untuk mengikuti mata pelajaran tertentu yang diprogramkan di kelas yang lebih tinggi. Pelung yang diberikan itu dapat mempercepat penyelesaian studi siswa.

b. Model Pengayaan

Melayani siswa yang memiliki kemampuan unggul, dapat dilakukan dengan program pengayaan yaitu memberikan tugas-tugas tambahan yang relevan dengan bidang studi yang diterimanya. Model pengayaan ini dapat memenuhi harapan atau kebutuhan siswa dalam mengembangkan kemampuan intelektualnya, dengan tidak memisahkan mereka dari teman-teman sekelasnya.

c. Model Pengelompokan Berdasarkan Kemampuan

Siswa yang diidentifikasi berbakat dari semua tingkat kelas yang sama disuatu sekolah dikelompokan ke dalam satu kelas. Kelompok tersebut terdapat lima atau delapan anak. Jika lebih dari delapan anak sebaiknya mereka dikelompokan menjadi dua kelompok. Setiap kelompok dibimbing oleh guru yang memiliki kemampuan atau keterampilan khusus untuk mengajar atau membimbing para siswa yang berkemampuan luar biasa.

Terdapat pula model atau sistem penyelenggaraan pendidikan bagi anak berbakat atau cemerlang adalah:

  • Sekolah khusus

Dari sudut administrasi sekolah mudah diatur. Namun dari sudut anak banyak kerugiannya karena dengan mengikuti pendidikan khusus, anak terlempar jauh dari lingkungan sosialnya dan menjadi anggota kelompok sosial khusus dan istimewa. Perkembangan aspek kepribadian sangat mengkhawatirkan karena kurangnya kemungkinan anak untuk mendefinisikan aspek-aspek kepribadian seluas-luasnya. Dalam hal ini bisa dicapai melaui pergaulan, nilai sebagai anggota masyarakat, ia akan mudah merasa sebagai anggota masyarakat dengan kelas dan tingkatan.

  • Kelas khusus

Pada model ini kurikulum dibuat khusus demikian pula dengan guru-gurunya. Keuntungannya ialah mudah mengatur pelaksanaannya dan pada murid sendiri merasa ada persaingan dengan teman-temannya yang seimbang kemampuannya dan jumlah pelajaran serta kecepatan dalam menyelesaiakan suatu mata pelajaran bisa disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan anak. Kerugia akan terjadi pada anak-ana normal yang sebaya, sehingga proses sosialisasi di sekolah menjadi berkurang. Perlakuan istimewa oleh pihak sekolah dan guru-guru menimbulkan perasaan harga diri yang berlebihan. Karena dalam kenyataannya dia berada dalam kelas yang eksekutif, tersendiri dan sulit menyesuaikan diri.

  • Kelas terintegrasi

Cara ini bisa dilakukan di setiap sekolah karena anak berbakat mengikuti secara penuh acara di sekolah dan setelah itu memperoleh pelajaran tambahan dikelas khusus.

Waktu belajarnya bertambah dan mata pelajaran dasar atau yang berhubungan dengan kemampuan khusus ditambah. Permasalahan yang muncul dalam penyelenggaraan pendidikan model terintegrasi atau inklusi adalah bagaimana memberikan perhatian kepada setiap individu anak dalam setting kelas yang relatif beragam kemampuannya. Implikasi dari penerapan model ini adalah perlunya kurikulu yang fleksibel atau berdiferensi, yang bisa mengakomodasi anak-anak normal maupun berbakat, dan guru-guru memiliki kesiapan atau kemampuan untuk melayani siswa yang memiliki keragaman karakterisitik tersebut.

Kerugian yang mungkin dialami anak:

  • Berkurangnya waktu untuk melakukan kegiatan lain yang diperlukan untuk meperkembangkan aspek kpribadiannya, misal pergaulan, olah raga dan kesenian.
  • Pada waktu anak mengikuti kelas biasa, ia merasa bosan dan pada anak-anak yang masih kecil, kemungkinan mengganggu teman-temannya bertambah.
  • Dikelas biasa anak tidak terlatih bersaing dan bekerja keras untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya.

Pada model ini anak mengikuti kelas biasa tetapi tidak seluruhnya dan ditambah dengan mengikuti kelas khusus. Jumlah jam pelajaran tetap dan hal ini menguntungkan anak sehingga ia masih mempunyai waktu untuk mengembangkan aspek-aspek kepribadiannya. Keuntungan lain jumlah jam belajar yang cukup lama di kelas khusus masih memperoleh kesempatan bersaing dengan teman-temannya yang mempunyai potensi berbeda.

Ohio Association for Gifed Children mengajukan beberapa alternatif tentang program pendidikan anak berbakat, sebagai berikut:

  1. Akselarasi
  2. Loncat kelas
  3. Pengelompokan khusus
  4. Curriculum Compating
  5. Kurikulum Berdiferensi
  6. Pengayaan
  7. Post-Scondary Enrollment Option
  8. Pull out program
  9. Resource Room/ Area
  10. Selft Containned Classroom

Alternatif tentang program pendidikan anak berbakat adalah sebagai berikut:

  1. Akselarasi (acceleration)
  2. Loncat kelas (advanced Placement)
  3. Pengelompokan khusus
  4. Curriculum Chompacting
  5. Kurikulum berdiferensi
  6. Pengayaan
  7. Post-Secondary Enrollment
  8. Pull-out Program
  9. Resource room/Area
  10. Selft-Contained Classroom

Evaluasi Pembelajaran

Proses  evaluasi  pada  anak  berbakat  tidak  berbeda  dengan  anak  pada umumnya,  namun  karena  kurikulum  atau  program  pelajaran  anak  berbakat berbeda dalam cakupan dan tujuannya maka dibutuhkan penerapan evaluasi yang sesuai dengan keadaan tersebut.

Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar anak berbakat. Sehubungan dengan hal itu Conny Semiawan, 1992 mengemukakan bahwa instrumen dan prosedur yang digunakan  mengacu pada ketuntasan belajar adalah pengejawantahan dari kekhususan layanan pendidikan anak berbakat, hasil umpan balik untuk keperluan tertentu, pemantulan tingkat kemantapan penguasaan suatu materi sesuai dengan sifat, keterampilan, dan kemampuan maupun kecepatan belajar seseorang. Model pengukuran seperti tersebut di atas adalah pengukuran acuan kriteria (criterion-reference). Sebaliknya ada pengukuran acuan norma yang membandingkan keberbakatan seseorang dengan temannya. Kedua cara tersebut tidak selalu menunjuk hasil akhir yang diinginkan, melainkan merupakan petunjuk bidang mana yang sudah dikuasai individu sehingga memberikan keterangan mengenai  taraf  kemampuan yang dicapai tanpa tergantung pada kinerja temannya.

I. PERMASALAHAN YANG DAPAT TERJADI PADA ANAK BERBAKAT

Kerentanan (vulnerability) anak berbarkat terletak dalam tingkat kemungkinan yang lebih tinggi akan ketegangan emosional dan konflik sosial yang memerlukan tingkat adaptasi yang tinggi agar tidak mengganggu kesehatan mental dan berfungsinya secara umum. Kerentanan ini tampak pada semua anak berbakat, tetapi kebanyakan dari mereka mampu menggunakan kekuatan intelektual unggul mereka untuk penyesuaian diri secara efektif. Namun, sebagian dari mereka kurang berhasil dalam penyesuaian diri ini disebabkan oleh konflik yang mereka alami.

Menurut Utami Munandar, 2009 mengemukaakn ada tiga faktor yang menyebabkan anak berbakat dalam keadaan rentan merupakan ciri kepribadian yang dapat menimbulkan kesulitan, menyebabkan ketegangan bagi anak berbakat yaitu:

  1. Karakteristik kepribadian yang menyebabkan kerentanan anak berbakat ialah:

a. Perfeksionisme

Dorongan dalam untuk mencapai kesempurnaan membuat siswa berbakat tidak putus asa dengan prestasinya yang tidak dapat memenuhi tujuan-tujuan pribadinya. Dorongan akan kesempurnaan ini dapat menyebabkan anak berbakat hanya mau memilih kegiatan tertentu jika ia yakin akan bisa berhasil. Kritik terhadap diri sendiri yang berlebih dan taraf aspirasi yang tidak realitis membuat banyak anak berbakat diliputi rasa tidak mampu.

b. Kepekaan yang berlebihan (supersensitivity)

Sistem saraf yang super sensitif dari anak berbakat membuatnya lebih peka dalam pengamatan, menanggapi dirinya dan lingkungannya secara analitis dan kritis, sehingga ia menjadi mudah tersinggung dan diliputi perasaan seperti dikucilkan. Anak kecil yang berbakat sering digambarkan sebgai anak yang hiperraktif dan perhatiannya mudah beralih.

c. Kurang keterampilan social

Ada anak berbakat yang sulit menyesuaikan dirinya dengan lingkungn sosialnya, mereka lebih banyak menyendiri dan dapat dihinggapi rasa kesendirian dn kesunyian. Di lain pihak ada pula anak berbakat yang ingin populer dan menjadi pimpinan, hal ini dapat mengarah kekecenderungan untuk mendominasi kelompoknya.

Sosialisasi dini dari anak berbakat sagat penting bagi perkembangan mereka sebagai pemimpin masa depan. Mereka memerlukan bimbingan orang dewasa untuk membantu mereka belajar bagaimana berperanserta sebagai anggota kelompok, disamping juga memenuhi kebutuhan pribadi mereka.

  1. Kondisi lingkungan yang dapat menyulitkan anak berbakat ialah:

a. Isolasi social

Karena kurang memahami ciri-ciri dan kebutuhan anak berbakat, orang dewasa dalam sikap dan perilaku mereka dapat menunjukkan sentimen atau penolakan terhadap anak berbakat.

Demikian pula kelompok sebaya dapat memberi tekanan terhadap anggota kelompokyang menyimpang dari mayoritas, yang kreatif dan berbakat. Kondisi ini dapat menyebabkan anak berbakat mengalami isolasi sosial.

b. Harapan yang tidak realistis

Harapan atau tuntutan yang tidak realistis terhadap anak berbakat dari pihak orang tua atau orang dewasa lainnya dapat terjadi karena dua hal:

  • Kecenderungan untuk menggeneralisasi sehingga anak berbakat diharapkan/dituntut menonjol dalam semua bidang.
  • Pelibatan ego orang tua atau guru terhadap keberhasilan anak (ingin merasa bangga atas prestasi anak)

c. Tidak tersedia pelayanan pendidikan yang sesuai

Ketidakpedulian terhadap kebutuhan anak berbakat dan penolakan terhadap hak-hak mereka menyebabkan masyarakat kurang memberikan kesempatan pendidikan yang sesuai bagi anak berbakat. Akibat dari keterlantaran ini ialah bahwa siswa berbakat harus menyelesaikan pendidikan formal mereka dalam sekolah yang lebih menekankan konformitas terhadap “yang rata-rata”. Dalam iklim sosial ini anak “berbeda”, hal ini dapat mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan mentalnya maupun terhadap pertumbuhan dan perkembangannya secara menyeluruh.

Dapat pula dikategorikan menjadi 2, yaitu internal problem dan eksternal problem.

  • Internal Problems
  1. Univen Development
  2. Perr Relations
  3. Excessive Self-Criticsm
  4. Perfectionism
  5. Avoidance of risk-Taking
  6. Multipotentiality
  7. Gifted Children with Disabilities
  • Exsternal Problems
  1. School culture and Norms
  2. Expectation by Others
  3. Perr Relations
  4. Depression
  5. Family Relations

Terkait dengan masalah anak berbakat Ohio’s State Board of Education telah melakukan penelitian, yang hasilnya menunjukkan bahwa

  1. Banyak anak berbakat mengalami “drop out” dari sekolah, karena tidak memperoleh layanan akademik atau pembelajaran yang dibutuhkan.
  2. Anak berbakat yang tidak mendapatkan tantangan, atau stimulasi yang dapat mengembangkan potensinya cenderung kurang siap menerima tantangan, tugas-tugas sekolah yang lebih tinggi.
  3. 85% anak berbakat mengalami “underaciver” karena mereka tidak memperoleh layanan pendidikan yang diharapkan.
  4. Mereka sering mengalami rasa bosan, kurang bersemangat, frustasi, rasa marah, dan merasa kurang berharga.

Terdapat pula permasalahan anak berbakat yaitu:

  1. Kemampuan berpikir kritis dapat mengarah ke arah sikap.
  2. Meragukan (skeptis), baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.
  3. Pemberian Label/ sebutan pada anak berbakat bahwa dirinya berbakat dapat menimbulkan harapan terhadap kemampuan anak dan dapat menimbulkan beban mental pada dirinya dan kadang mengakibatkan frustasi.
  4. Resiko dan tekanan yang menyertai potensi intelegensi tinggi dan sering mengarahkan anak yang berpotensi tinggi untuk menjadi anak yang bersikap defensif.
  5. Kemampuan kreatif dan minat untuk melakukan hal-hal yang baru, bisa menyebabkan mereka tidak menyukai atau lekas bosan terhadap tugas-tugas rutin.
  6. Perilaku yang ulet dan terarah pada tujuan, dapat menjurus ke keinginan untuk memaksakan atau mempertahankan pendapatnya.
  7. Kepekaan yang tinggi, dapat membuat mereka menjadi mudah tersinggung atau peka terhadap kritik.
  8. Semangat, kesiagaan mental, dan inisiatifnya yang tinggi, dapat membuat kurang sabar dan kurang tenggang rasa jika tidak ada kegiatan atau jika kurang tampak kemajuan dalam kegiatan yang sedang berlangsung.
  9. Dengan kemampuan dan minatnya yang beraneka ragam, mereka membutuhkan keluwesan serta dukungan untuk dapat menjajaki dan mengembangkan minatnya.
  10. Keinginan mereka untuk mandiri dalam belajar dan bekerja, serta kebutuhannya akan kebebasan, dapat menimbulkan konflik karena tidak mudah menyesuaikan diri atau tunduk terhadap tekanan dari orang tua, sekolah, atau temantemannya.
  11. Ia juga bisa merasa ditolak atau kurang dimengerti oleh lingkungannya.
  12. Sikap acuh tak acuh dan malas, dapat timbul karena pengajaran yang diberikan di sekolah kurang mengundang tantangan baginya.

J. PRINSIP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT

  1. Penerapan Kurikulum Berdiferensi

Penerapan model pendidikan siswa berbakat yang terintegrasi dalam kelas yang reguler/ normal disamping memiliki banyak keuntungan bagi perkembangan psikologi dan sosial anak, tetapi juga menghadapi hal yang rumit, yaitu perlunya memberikan perhatian secara berbeda melalui “pengajaran yang diindividualisasikan” yaitu setting kelas tetapi perhatian diberikan kepada setiap individu anak.

Implikasi dari kondisi tersebut untuk penyelenggaraan siswa berbakat diperlukan penerapan kurikulum berdiferensi, yang dapat mengakomodasi para siswa yang normal maupun yang cemerlang. Dengan demikian, kurikulum pendidikan seyogyanya dapat mengakomodasi dimensi vertikal maupun horisontal. Secara vertikal, anak-anak cerdas harus dimungkinkan untuk menyelesaikan pendiikannya lebih cepat. Secara horisontal, disediakan program pengayaan dimana siswa cemerlang dimungkinkan untuk mendapatkan materi tambahan, baik dengan tugas-tugas maupun sumber-sumber belajar tambahan.

Menurut Conny S ada beberapa materi yang harus menjadi landasan utama dalam mengembangkan kurikulum berdiferensi yang berkenaan dengan materi, keterampilan, pengembangan pikiran, dan sikap yang harus dicapai.

Mengenai materi, isi kurikulum harus mempusatkan dan mengkoordinasi ide dan masalah serta tema yang lebih luas, rumit dan mendalam, yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan secara melintang dengan sistem pemikiran.

1. Keterampilan Mental

  • Pengembangan kurikulum harus memberikan pengalaman belajar sehingga anak memiliki pikiran yang terorganisasikan. Caranya ialah dengan memasukan konsep generalisasi, prinsip dan teori yang berarti, yang berkaitan dengan maslah aktual yang menarik bagi dirinya ke dalam proses berfikir.
  • Pengembangan kurikulm harus menampilkan ide dan teori masa lalu, masa yang akan datang serta masa kini untuk memperluas pemahaman yang lebih mendalam terhadap berbagai sistem dan nilai, sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif dan afektif yang lebih tinggi.
  • Pengembangan kurikulum harus menerapkan pengetahuan pada tingkat ganda dan pengertian dalam berbagai situasi dan kejadian secara beragam. Memperluas cara berfikir, mencari jawaban terhadap berbagai kejadian harus diselenggarakan dalam pengalaman belajar.
  • Pengembangan kurikulum harus memberikan kesempatan untuk memperoleh dan menerapkan belajar secara mendasar.
  • Kondisi lingkungan harus menumbuhkan inspirasi turunan orisinal terhadap berbagai masalah.
  • Kesempatan untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang dijabarkan dari disiplin yang satu ke bidang lain harus diadakan dalam berbagai situasi belajar dengan berbagai kemungkinan yang terbuka.

2. Penerapan berfikir produktif

  • Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengkonseptualkan pengetahuan dan pengembangan keterampilan ke dalam bentuk inovatif dengan perspektif bermakna dalam berbagai mata pelajaran. Guru harus mempersiapkan bahan pemerkaya peserta didik.
  • Pengembangan keterampilan berbagai bentuk berkomunikasi.

3. Pengembangan sikap

  • Kesempatan menjelajah rintisan ilmu pengetahuan dengan kemungkinan menyatakan pendapatnya melalui berbagai media.
  • Kesempatan pengembangan metode dan keterampilan musyawarah serta konsesus terhadap perbedaan, penjabaran masalah melalui berbagai kemungkinan.
  • Memahami peranan persepsi dalam penafsiran isu dan cara pengembangan pendapat pribadi serta pernyataannya dalam hal-hal yang dalam program khusus harus diberikan peluang untuk ditumbuhkan.
  1. Penciptaan Lingkungan yang Kondusif

Penyelenggaraan pendidikan anak berbakat perlu didukung oleh penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi dn memberikan peluang-peluang bagi anak dalam mengembangkan potensinya.  Gallagher mengemukakan beberapa hal yang terkait dengan upaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak barbakat, yaitu:

  1. Memberikan program pengayaan
  2. Menugaskan “guru konsultan”
  3. Menyediakan ruang sumber
  4. Menggunakan mentor
  5. Memberikan latihan kepada anak untuk melakukan studi mandiri
  6. Menyediakan kelas-kelas khusus terhadap minat siswa
  1. Penempatan guru yang kualified

Salah satu faktor yang sangat berarti bagi keberhasilan penyelengara pendidikan anak berbakat adalah guru. Guru yang dipandang cocok bagi pendidikan anak berbakat, adalah yang memiliki karakeristik sebagai berikut:

  1. Memiliki kemampuan berfikir logis, rasional dan produktif
  2. Memiliki kreativitas yang tinggi
  3. Memiliki pengalaman belajar yang bermakna
  4. Memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tulis
  5. Memiliki pemahaman konsep tentang kebermaknaan
  6. Memiliki keterampilan dalam menerapkan berbagai metode pembelajaran secara efektif
  7. Memiliki wawasan yang luas tentang berbagai aspek kehidupan, terutama yang terkait dengan materi-materi yang diajarkan kepada anak
  8. Memiliki komitmen yang kuat terhadap tugas yang diembannya
  9. Memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi program pendidikan anak berbakat
  10. Memiliki pemahaman tentang kurikulum berdiferensi dan langkah-langkah pengembangannya
  11. Memiliki pemahaman tentang konsep bimbingandan mampu menerapkannya
  12. Menguasai teknologi inforasi yang menunjang tugasnya dalam mengajar anak berbakat.

K. PIHAK YANG BERPERAN PADA ANAK BERBAKAT

a. Peran Guru

  1. Pertama-tama guru perlu memahami diri sendiri, karena anak yang belajar tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tetapi juga bagaimana guru melakukannya, guru pun perlu memiliki pengertian tentang keterbakatan.
  2. Guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak.
  3. Guru anak berbakat hendaknya lebih banyak memberikan tantangan daripada tekanan.
  4. Guru anak berbakat tidak hanya memperhatikan produk atau hasil belajar siswa, tetapi lebih-lebih proses belajar.
  5. Guru anak berbakat lebih baik memberikan umpan balik daripada penilaian.
  6. Guru anak berbakat harus menyediakan beberapa alternatif strategi belajar.
  7. Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa harga diri anak serta dimana anak merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat dan keputusan.

b. Peran Orang Tua

Orang tua memegang peranan yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak berbakat istimewa :

  1. Memahami konsep keberbakatan istimewa.
  2. Perlu dipahami bahwa anak yang memiliki potensi berbakat istimewa memerlukan dorongan psikologis maupun materil yang berbeda maka pengasuhannya diharapkan disesuaikan dengan karakteristik yang dimilikinya.
  3. Membuat komunikasi dengan pihak sekolah dalam mengembangkan pendidikan bagi anaknya.
  4. Mengembangkan lingkungan yang kondusif dalam proses pendidikan anak berbakat istimewa.

c. Masyarakat

Suatu masyarakat yang berdasarkan pada hukum yang adil, yang memungkinkan kondisi ekonomi dan psikologis baik bagi warga negaranya, merupakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan kreatifitas. Terdapat sembilan faktor sosiokultural yang kreatif.

  1. Tersedianya sarana kebudayaan.
  2. Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan.
  3. Penekanan pada “becoming” (menjadi) bukan sekedar hanya pada “being” (sekedar ada).
  4. Memberikan kesempatan bebas terhadap media kebudayaan bagi semua warga negara, tanpa diskriminasi.
  5. Timbulnya kebebasan setelah pengalaman tekanan dan tindakan keras.
  6. Keterbukaan terhadap kebudayaan yang berbeda, bahkan yang kontras.
  7. Toleransi dan minat terhadap pandangan yang divergen.
  8. Adanya interaksi antara individu-individu yang berpengaruh.
  9. Adanya insentif, penghargaan, atau hadiah

Selain itu sangat dibutuhkan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga dan sekolah dapt bersama-sama mengusahakan pelayanan pendidikan bagi anak berbakat, misalnya dengan memandu dan memupuk minat anak.  Perlu diadakan pertemuan berkala antara guru-guru yang membimbing anak berbakat dengan orangtua anak berbakat untuk bersama-sama membicarakan dan mambahas masalah-masalah yang timbul berkaitan dengan keberbakatan anak.

Program-program kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bakat anak, misalnya: belajar musik, menari, drama, ilmu, dan sebagainya.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan yang lebih menonjol dari aspek intelektual, kreatif, seni, kepemimpianan atau bidang akademik tertentu yang menghasilkan prestasi tinggi. Ciri-ciri anak berbakat adalah anak yang berbeda dari anak normal dari aspek kecerdasan, pemahaman dalam belajar, kreativitas, motivasi, komitmen terhadap tugas, dan psikososial.

Mengidentifikasi anak berbakat dapat ditempuh dengan beberapa cara yaitu tes prestasi belajar, tes kecerdasan, tes kreativitas, dan nominasi (oleh guru, orang tua, teman sebaya dan diri sendiri). Faktor-faktor yang mempengaruhi terwujudnya bakat yaitu keadaan lingkungan dan keadaan diri sendiri.

Jenis-jenis Kecerdasan yaitu  kelompok kecerdasan yang terkait dengan objek (object related),  kelompok  kecerdasan bebas objek (object free) yaitu kelompok kecerdasan yang tidak dipengaruhi oleh objek, dan kelompok kecerdasan yang dipengaruhi hubungan dengan orang lain (person related). Strategi pembelajaran disesuaikan dengan anak berbakat, model pendidikan anak berbakat antara lain akselarasi atau percepatan, model pengayaan, model pengelompokan berdasarkan kemampuan, sekolah khusus, kelas khusus, dan kelas terintegrasi, dan evaluasi melalui acuan criteria serta acuan norma.

Prinsip penyelenggaraan pendidikan anak berbakat adalah penerapan kurikulum berdiferensi, penciptaan lingkungan yang kondusif, dan penempatan guru yang kualified. Pihak yang berperan pada anak berbakat adalah peran guru dan peran orang tua dan masyarakat.

B. SARAN

Anak berbakat merupakan potensi lebih yang dimiliki oleh anak yang perlu dikembangkan. Diperlukan perhatian bagi bakat-bakat yang dimiliki oleh anak yang istimewa terutama dari lingkungan keluarga dan sekolah. Pengembangan anak berbakat perlu dilakukan oleh dunia pendidikan yang lebih bermutu agar potensi-potensi luar biasa dapat tergali secara maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Heru Basuki, A. M. (2005). KREATIVITAS, KEBERBAKATAN INTELEKTUAL DAN FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DALAM PENGEMBANGANNYA. Jakarta: Gunadarma

Suryosubroto, B. (1997). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

http://izzaucon.blogspot.com/2014/06/pendidikan-anak-berbakat.html 26-06-2015, 10:35

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

TUGAS PORTOFOLIO 3

MAKALAH

PENGEMBANGAN KREATIVITAS & KEBERBAKATAN

TUGAS PORTOFOLIO 3

Tugas ini dibuat untuk memenuhi nilai tugas Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan

UG - Lambang Gunadarma

Dosen Pengajar :

NITA SRI HANDAYANI, SPsi

Disusun Oleh :

RANNY KHOIRUNISA (18514928)

1PA15

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2015

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji dan syukur penulis haturkan  kehadirat ALLAH SWT, atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Tugas Portofolio 3”.

Makalah ini dibuat dalam rangka memahami teori-teori mengenai belajar dan mengajar kreatif serta segala yang berkaitan dengannya. Selain itu, tugas ini dibuat untuk melaksanakan tugas sebagai seorang mahasiswa, serta untuk memenuhi nilai tugas Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan. Dalam proses pembuatan makalah ini tentu penulis mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran. Untuk itu penulis ucapkan terima kasih kepada Ibu Nita Sri Handayani, SPsi selaku dosen Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan serta rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan aspirasinya dalam pembuatan makalah.

Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.

Bekasi, Mei 2015

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK), yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP), telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. Namun pada kenyataannya, pelaksanaan pembelajaran di sekolah, masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama, yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Guru masih dominan dan siswa resisten, guru masih menjadi pemain dan siswa penonton, guru aktif dan siswa pasif. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah, paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi paradigma membelajarkan siswa. Padahal, tuntutan KBK, pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas, ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain, jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri.

Demikian pula, pada pihak siswa, karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas, mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah, kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim, boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual, mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dan memang itu kewajiban utama, apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif.Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran, tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan.Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas, mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan, sehingga misi KBK dapat terwujud. Dengan paradigma yang berubah, mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif.

B. BATASAN MASALAH

  1. Apa yang dimaksud dengan belajar kreatif?
  2. Apa saja saja proses belajar kreatif?
  3. Mengapa proses belajar kreatif itu penting?
  4. Apa saja tiga tingkat belajar kreatif (model triffinger)?
  5. Apa yang dimaksud dengan mengajar kreatif?
  6. Apa saja teknik mengajar kreatif?
  7. Apa saja strategi memupuk iklim belajar yang kreatif?

C. TUJUAN PENULISAN

  1. Untuk mengetahui tentang belajar kreatif.
  2. Untuk mengetahui proses belajar kreatif.
  3. Untuk mengetahui mengapa proses belajar kreatif itu penting.
  4. Untuk mengetahui tiga tingkat belajar kreatif (model triffinger).
  5. Untuk mengetahui tentang mengajar kreatif.
  6. Untuk mengetahui teknik mengajar kreatif.
  7. Untuk mengetahui strategi memupuk iklim belajar yang kreatif dan saran-saran tambahan belajar yang kreatif.

D. MANFAAT PENULISAN

  1. Menambah wawasan mengenai belajar dan mengajar kreatif.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN BELAJAR KREATIF

Kreatif Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada dengan demikian baik berubah di dalam individu maupun di dalam lingkungan dapat menunjang atau dapat menghambat upaya kreatif (Munandar, 1995 : 12). Kreativitas juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya (Supriyadi, 1994 : 7). Secara psikoligis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. “belajar juga adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2003 : 2). Ahli pendidikan modern merumuskan bahwa belajar adalah suatu bentuk pertmbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Aqib, 2003 : 42). Belajar merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang tanpa mengenal batas usia dan berlangsung seumur hidup (Rohadi, 2003 : 4). Dengan demikian belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk merubah prilakunya, jadi hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan prilaku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Tornace dan Myres dikutip oleh Triffinger (1980) dalam Semiawan dkk (1987:34) berpendapat bahwa belajar kreatif adalah “menjadi peka atausadar akan masalah, kekuarangan-kekurangan, kesenjangan dalam pengetahuan, unsur-unsur yang tidak ada, ketidak harmonisan dan sebagainya. Mengumpulkam informasi yang ada, membataskan kesukaran, atau menunjukkan (mengidentifikasi) unsur yang tidak ada, mencari jawaban, membuat hipotesis, mengubah dan mengujinya, menyempurnakan dan akhirmnya mengkomunikasikan hasil-hasilnya” . Sedangkan proses belajar kreatif menurut Torance dan Myres berpendapat bahwa proses belajar kreatif sebagai : “keterlibatan dengan sesuatu yang berarti, rasa ingin tahu dan mengetahui dalam kekaguman, ketidak lengkapan, kekacauan, kerumitan, ketidakselarasan, ketidakteraturan dan sebagainya. Kesederhanaan dari struktur atau mendiagnosis suatu kesulitan dengan mensintesiskan ionformasi yang telah diketahui, membentuk kombinasi dan mendivergensi dengan menciptakan alternatif-alternatif baru, kemungkinan-kemungkinan baru, dan sebagainya. Mempertimbangkan, menilai, memeriksa, dan menguji kemungkinan-kemungkinan baru, menyisihkan, memecahkan yang tidak berhasil, salah dan kurang baik, memilih pemecahan yang paling baik dan membuatnya menarik atau menyenangkan secara estesis, mengkonunikasi hasi-hasilnya kepada orang lain” (Semiawan, DKK. 1987 : 35). Dengan demikian dalam belajar kreatif harus melibatkan komponen-komponen pengalaman belajar yang paling menyenangkan dan paling tidak menyenangkan lalu menemukan bahwa pengalaman dalam proses belajar kreatif sangat mungkin berada di antara pengalaman-penglaman belajar yang sangat menenangkan, pengalama-pengalaman yang sangat memberikan kepuasan kepada kita dan yang sangat bernilai bagi kita. Jadi kreativitas belajar dapat diartikan sebagai kemampuan siswa menciptakan hal-hal baru dalam belajarnya baik berupa kemampuan mengembangkan kemampuan formasi yang diperoleh dari guru dalam proses belajar mengajar yang berupa pengetahuan sehingga dapat membuat kombinasi yang baru dalam belajarnya.

B. PROSES BELAJAR KREATIF

Graham Wallas (1926)dalam bukunya „The Art of Thought’ yang mengatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap, yaitu (1) persiapan; (2) inkubasi; (3) iluminasi, dan (4) verifikasi.

  1. Tahap persiapan/orientasi(preparasi) seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain. Pada tahap persiapan ide datang dan timbul dari berbagai kemungkinan, dan ini dapat berasaldari guru melalui penjelasan atau penyampaian informasi topik materi pelajaran atau dapat pula dari siswa yang sebelumnya telah ditugaskan oleh guru untuk mencari ide atau gagasan yang terkait dengan materi pembelajaran.
  2. Tahap Inkubasi Pada tahap inkubasi, kegiatan mencari dan menghimpun data atau informasi tidak dilanjutkan. Inkubasi adalah tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tapi “ mengeramnya “ dalam alam prasadar, yaitu dimaksudkan diharapkan hadirnya suatu pemahaman serta kematangan terhadap ide yang tadi timbul (setelah dieram).
  3. Tahap Iluminasi Tahap iluminasi adalah tahap timbulnya „insight’, yaitu saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologi yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru. Suatu tingkat penemuan saat inspirasi yang tadi diperoleh, dikelola, digarap, kemudian menuju kepada pengembangan suatu hasil (product development). Pada masa ini terjadi komunikasi terhadap hasilnya dengan orang yang signifikan (dalam hal ini adalah guru atau orang lain yang berkompeten) bagi penentu, sehingga hasil yang telah dicapai dapat lebih disempurnakan lagi.
  4. Tahap Verifikasi Tahap verifikasi (verification) atau tahap evaluasi adalah tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen (pemikiran kreatif) dan diikuti oleh proses konvergensi (pemikiran kritis). Tahap ini dapat dilakukan misalnya dalam bentuk simulasi dan diskusi hasil penemuan tersebut.

C. MENGAPA BELAJAR KREATIF ITU PENTING?

Refinger (1980 : 9-13) dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting.

  1. Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
  2. Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
  3. Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.
  4. Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.

D. TIGA TINGKAT BELAJAR KREATIF (MODEL TRIFFINGER)

Model pembelajaran Treffinger adalah pembelajaran kreatif yang bertujuan untuk mengembangkan kreativitas siswa dengan menggunakan ketrampilan afektif dan kognitif yang termuat dalam tiga tingkatan yaitu basic tools, practice with proses, dan working with real problem.Tingkat I adalah basic tools, yaitu pengembangan fungsi-fungsi divergen, Tingkat II adalah practice with proses, merupakan proses berpikir dan perasaan majemuk, dan tingkat III adalah working with real problem, yaitu pengaplikasian pada dunia nyata.

E. PENGERTIAN MENGAJAR KREATIF

Definisi mengajar adalah memberikan petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain (Hoetomo,MA,1999) sedangkan Kreativitas Menurut Jamridafrizal.S.A.g.S.S.M.Hum (2010) Kreativitas ialah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gaya hidup, gagasan, proses maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan yang telah ada sebelumnya.

Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa mengajar kreatif adalah memberikan petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain dengan sesuatu yang baru baik berupa gaya hidup, gagasan, proses maupun karya nyata yang relatif berbeda dari cara yang ada sebelumnya.

F. TEKNIK MENGAJAR KREATIF

  1. Melakukan Pemanasan

Sebelum memulai dengan kegiatan yang menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di Kalangan siswa, terutama berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan pemanasan yang dapat tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa.

  1. Pemikiran dan perasaan terbuka

Teknik pemikiran dan perasaan berakhir terbuka ingin mengupayakan agar peserta didik terdorong memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertanyaan dan memungkinkan peserta didik mengungkapkan segala perasaan dan pikiran sebagai jawaban.

  1. Strategi Belajar Kreatif

Strategi Pembelajaran kreatif yang diberi nama “Majelis” ini cocok digunakan untuk mata pelajaran TIK, IPA, Penjaskes, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Agama, Keterampilan, Seni Budaya, IPS, dan Matematika. Dasar pemikiran mengapa muncul strategi pembelajaran ini adalah sifat dasar alamiah manusia yang senantiasa ingin berkumpul dan bercakap-cakap, atau berdiskusi. Strategi pembelajaran kreatif majelis ini mudah dilaksanakan karena tidak memerlukan setting ruangan secara khusus. Selain itu, selama pembelajaran siswa dapat melatih kecerdasan emosional, kemandirian, berbicara, menulis, membaca, mendengarkan, bergerak, dan tentu saja bersenang-senang.

Melalui strategi pembelajaran kreatif majelis ini, setiap kelompok siswa misalnya diberi tugas untuk menggabungkan potongan-potongan informasi atau gambar menjadi sesuatu yang utuh dan bermakna. Melalui kegiatan pembelajaran yang menggunakan strategi “Majelis” ini, dapat diharapkan siswa menjadi aktif baik secara fisik maupun mental. Mereka pasti lebih suka menggeser-geser kartu dan mereka-reka kata, kalimat, atau simbol untuk membuat hubungan. Selain itu metode ini bagus untuk keterampilan mengurutkan, mengelompokkan,memilih dan mencocokkan. Mereka dapat diminta untuk saling berlomba untuk menjadi yang paling cepat menyelesaikan tugas. Hal ini dilakukan agar setiap kelompok menjadi lebih bersemangat dalam belajar.Strategi pembelajaran “Majelis” dapat divariasikan dengan membuat sistem kompetisi untuk kelompok siswa.

G. SARAN-SARAN TAMBAHAN DALAM MEMUPUK IKLIM BELAJAR YANG KREATIF

Untuk dapat mengatasi permasalahan dalam pembelajaran yaitu guru harus mengembangkan kreativitasnya dalam pembelajaran. Kreativitas guru merupakan hal penting dalam pembelajaran dan bahkan dapat menjadikan pintu masuk dalam upaya meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa. Perilaku pembelajaran yang dicerminkan oleh guru cenderung kurang bermakna apabila tidak diimbangi dengan gagasan/ide dan perilaku pembelajaran yang kreatif. Kreativitas adalah kemampuan guru dalam meninggalkan gagasan/ide dan perilaku yang dinilai mapan, rutinitas, usang dan beralih untuk menghasilkan atau memunculkan gagasan/ide dan perilaku baru itu terwujud ke dalam pola pembelajaran yang di nilai kreatif dan adaptif terhadap perubahan (Agung 2010 :12).

Mengembangkan kreativitas pembelajaran antara lain sebagai berikut :

1. Merancang dan Menyiapkan Bahan Ajar/Materi Pelajaran

Merancang dan menyiapkan bahan ajar/materi pelajaran merupakan faktor penting dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran terhadap anak didik dapat berlangsung baik, rancangan dan persiapan bahan ajar/materi pelajaran pun harus baik pula, cermat dan sistematis. Rancangan atau persiapan bahan ajar/ materi pelajaran berfungsi sebagai pemberi arah pelaksanaan pembelajaran, sehingga proses pembelajaran dapat terarah baik dan efektif. Namun hendaknya dalam merancang dan menyiapkan bahan ajar/ materi pelajaran disertai pula dengan gagasan/ide dan perilaku guru yang kreatif (Agung 2010 :54).

Sejumlah hal dibawah ini mungkin dapat menjadi acuan bagi guru untuk mengembangkan gagasan/ide dan perilaku kreatif berkaitan dengan menyusun rencana atau persiapan mengajar (Agung 2010 :54-55):

  • Menentukan bahan ajar/materi pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik.
  • Menentukan tujuan pembelajaran dari masing-masing bahan ajar/materi pelajaran yang akan disampaikan.
  • Memilah bahan ajar/materi pelajaran yang dinilai sulit dan mudah diterima oleh peserta didik.
  • Merancang cara pemberian dan membangkitkan perhartian dan semangat belajar siswa, melalui contoh, ilustrasi gaya bahasa yang di gunakan dan lain sebagainya.
  • Merancang cara untuk menimbulkan keaktifan dalam pembelajaran siswa, berupa pemberian tugas mencari bahan ajar, eksperimen, stimulasi, diskusi, perkerjaan rumah dan sebagainya.
  • Merancang cara pemberian pengulangan tehadap bahan ajar yang dinilai sulit melalui tes kecil, pemberian tambahan waktu belajar, pemberian tugas/perkerjaan rumah dan lain sebagainya.
  • Merancang cara memberikan tantangan belajar yang perlu diatasi bersama oleh siswa, baik individual maupun kelompok, seperti menugaskan membaca dan menyimpulkan hasil, tugas, tugas kelompok, pengenalan lingkungan sekitar, memberikan tugas kliping Koran dengan tema sesuai dengan materi pelajaran dan memberikan kesimpulan dan lain sebagainya.
  • Merancang cara untuk balikan dan penguatan, berupa tes kecil harian, pemberian tugas/latihan, pemberian jam pelajaran tambahan untuk penguatan dan sebagainya.
  • Memperhatikan perbedaan karakteristik kemampuan siswa dan mengelompokkan ke dalam siswa pintar, sedang, dan kurang, serta perlakuan yang akan diberikan.
  • Menyusun rencana kerja.

2. Pengelolaan Kelas

Pengelolahan kelas harus sesuai dengan materim, tujuan, dan kebutuhan yang dihadapi. Guru dapat merancang pengelolahan kelas secara variatif untuk menghindarkan proses pembelajaran yang monoton, satu arah dan kering. Sebaliknya, pengelolaan kelas yang terencana dengan baik akan membawa suasana pembelajaran lebih menantang, menarik dan tidak membosabkan. Kreativitas guru dalam pengelolaan kelas (Agung 2010 :56-57):

  • Mengkaji bahan ajar/materi pembelajaran yang akan disampaikan, tujuan pembelajran.
  • Mengkaji bentuk-bentuk pengelolaan kelas dan menentukan dengan kemungkinan penerapan sesuai dengan bahan ajar/materi pelajaran yang akan disampaikan, dalam bentuk klasikal/kelas, berkelompok, berpasangan, perseorangan atau lainnya.
  • Memperhatikan hal-hal pengelolaan kelas terkait denganpemberian dan membangkitkan perhatian dan motivasi peserta didik, mengembangkan keaktifan dalam pembelajara, keterlibatan langsung peserta didik, pemberian pengulangan, pemberian tantangan belajar, pemberian balikan dan penguatan, serta perbedaan individual siswa.
  • Mengidentifikasi permasalahan dan hambatan dalam pengelolaan dan kebutuhanruang/kelas, serta membahas dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mencari alternative pemecahannya.
  • Menyusun rencana kerja terkait pengelolaan kelas.

3. Pemanfaatan Waktu

Hal yang dapat dilakukan guru dalam mewujudkan gagasan/ide dan perilaku kreatif dalam memanfaatkan waktu antara lain (Agung 2010 :58-59) :

  • Mengkaji rancangan/persiapan pembelajaran yang telah disusun sebelumnya.
  • Menyusun pembagian waktu pembelajaran berdasarkan jenis/bentuk pengajaran, misalkan penyampaian bahan ajar/materi pelajaran, diskusi, eksperimen, dan lain sebagainya.
  • Merancang dan menyususun pembagian waktu untuk membangkitkan perhatian dan motivasi peserta didik, keterlibatan langsung, keaktifan, pengulangan, balikan dan penguatan, sampai dengan penambahan jam pelajaran.
  • Mengidentifikasi permasalahan dan hambatan yang muncul dalam upaya memberikan tambahan waktu belajar kepada siswa.
  • Membahas dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mencari alternatif pemecahannya.
  • Menyusun rencana kerja pemanfaatan waktu.

4. Penggunaan Metode Pembelajaran

Beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk mewujudkan perilaku pembelajaran yang kreatif dalam menggunakan metode pengajaran, yaitu (Agung 2010 :60-61):

  • Mengkaji bentuk metode pembelajaran yang ada.
  • Mengkaji segenap hal terkait dengan penggunaan metode pembelajaran, mulai dari bahan ajar/materi pelajaran, tujuan pembelajaran yang akan disampaikan, upaya membangkitkan perhatian dan semangat peserta didik, melibatkan keaktifan peserta didik, memberikan balikan dan penguatan, sampai dengan perhatian terhadap perbedaan karakteristik peserta didik.
  • Merancang metode pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengunaannya.
  • Membahas rancangan penggunaan bentuk metode pembelajaran dan menyiapkan fasilitas pendukung.
  • Mencari bantuan ahli yang berasal dari dalam maupun luar sekolah (apabila diperlukan).
  • Menyusun rancangan kerja pemanfaatan metode pembelajaran.

5. Penggunaan Media Pembelajaran

Di bawah ini sejumlah langkah/tindakan yang dapat dilaksanakan oleh guru terkait dengan penggunaan media pembelajaran, antara lain (Agung 2010 :62):

  • Mengkaji bentuk-bentuk media pembelajaran yang ada.
  • Mengkaji segenap hal terkait dengan penggunaan media pembelajaran, mulai dari bahan ajar/materi pelajaran, tujuan pembelajaran, upaya membangkitkan perhatian dan semangat peserta didik, melibatkan keaktifan peserta didik, memberikan balikan dan penguatan, sampai dengan perhatian perbedaan karakteristik peserta didik.
  • Merancang dan membahas penggunaan media pembelajaran.
  • Mencari bantuan ahli. · Menyusun rencana kerja penggunaan media pembelajaran.

6. Pengembangan Alat Evaluasi

Dibawah ini dikemukakan langkah-langkah atau tindakan yang mungkin dapat dilakukan guru dalam mewujudkan gagasan/ide dan perilaku pembelajaran yang kreatif berkaitan dengan pengembangan alat evaluasi tersebut (Agung 2010 :63-65) :

  • Mengidentifikasi jenis/bentuk tes berbagai alat evaluasi hasil belajar siswa/peserta didik serta kaidah-kaidah penulisan soal.
  • Menentukan waktu evaluasi berupa tes/ulangan harian, mingguan, bulanan, cawu dan semester.
  • Menentukan jenis/bentuk tes (uraian, jawaban singkat, isian, pilihan ganda, menjodohkan dan benar salah).
  • Menetapkan jenis/bentuk tes yang telah dipilih.
  • Mengidentifikasi permasalahan, hambatan dan kebutuhan berkenaan dengan penggunaan jenis/bentuk tes.
  • Menentukan alternatif pemecahan permasalahan, hambatan dan kebutuhan yang dihadapi.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kreatif Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada dengan demikian baik berubah di dalam individu maupun di dalam lingkungan dapat menunjang atau dapat menghambat upaya kreatif (Munandar, 1995 : 12). Kreativitas juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya (Supriyadi, 1994 : 7).

Graham Wallas (1926) dalam bukunya „The Art of Thought’ yang mengatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap, yaitu (1) persiapan; (2) inkubasi; (3) iluminasi, dan (4) verifikasi.

Model pembelajaran Treffinger adalah pembelajaran kreatif yang bertujuan untuk mengembangkan kreativitas siswa dengan menggunakan ketrampilan afektif dan kognitif yang termuat dalam tiga tingkatan yaitu basic tools, practice with proses, dan working with real problem.Tingkat I adalah basic tools, yaitu pengembangan fungsi-fungsi divergen, Tingkat II adalah practice with proses, merupakan proses berpikir dan perasaan majemuk, dan tingkat III adalah working with real problem, yaitu pengaplikasian pada dunia nyata.

Mengajar adalah memberikan petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain (Hoetomo,MA,1999) sedangkan Kreativitas Menurut Jamridafrizal.S.A.g.S.S.M.Hum (2010) Kreativitas ialah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gaya hidup, gagasan, proses maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan yang telah ada sebelumnya.

Teknik Mengajar Kreatif, yaitu : Melakukan Pemanasan, Pemikiran dan perasaan terbuka, Strategi Belajar Kreatif.

B. SARAN

Untuk dapat mengatasi permasalahan dalam pembelajaran yaitu guru harus mengembangkan kreativitasnya dalam pembelajaran. Kreativitas guru merupakan hal penting dalam pembelajaran dan bahkan dapat menjadikan pintu masuk dalam upaya meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa. Perilaku pembelajaran yang dicerminkan oleh guru cenderung kurang bermakna apabila tidak diimbangi dengan gagasan/ide dan perilaku pembelajaran yang kreatif.  Untuk mengembangkan kreativitas pembelajaran dengan cara : Merancang dan Menyiapkan Bahan Ajar/Materi Pelajaran, Pengelolaan Kelas, Pemanfaatan Waktu, Penggunaan Metode Pembelajaran, Penggunaan Media Pembelajaran, Pengembangan Alat Evaluasi.

DAFTAR PUSTAKA

Heru Basuki, A. M. (2005). KREATIVITAS, KEBERBAKATAN INTELEKTUAL DAN FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DALAM PENGEMBANGANNYA. Jakarta: Gunadarma

https://totoyulianto.wordpress.com/2013/03/09/pengertian-kreativitas-belajar-menurut-para-ahli/ 17-05-2015/13:57

http://amaliakusuma61.blogspot.com/ 17-05-2015/13:59

http://sharahhanifah.blogspot.com/2015/03/pengertian-kreativitas-dan-teori.html 17-04-2015/17:48

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

KARYA TULIS

KEISTIMEWAAN CINTA

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan yang hangat yang muncul ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.  Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus mengakui, bahwa saya mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan-alasan saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif dan berperasaan halus, saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta.

Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, yaitu saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.

“Saya lelah, terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini”, jawab saya.

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan kerisauan yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya?.

Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Seseorang berkata, ‘mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit’ dan itu benar, saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya. Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya. Seandainya, katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”.

Dia berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.” Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya.

Dia tidak ada di rumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-coretan tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan :

“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu.”

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya dan saya menundukkan kepala dalam-dalam. Kemudian saya melanjutkan untuk membacanya kembali.

“Tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.”

“Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-jari saya supaya saya bisa menolong untuk memperbaiki programnya.”

“Kamu selalu lupa meletakkan kunci rumah, bahkan menghilangkannya ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu.”

“Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.”

“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.”

“Kamu senang diam di dalam rumah, dan saya khawatir kamu akan jadi “aneh”. Saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon-lelucon dan cerita-cerita untuk menyembuhkan kebosananmu.”

“Kamu selalu menatap komputermu dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”

“Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah, menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu.”

Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur dan saya membaca kembali.

“Dan sekarang sayangku kamu telah selesai membaca jawaban saya, jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana dengan secangkir teh hangat dan roti kesukaanmu?”

Air mata saya menganak sungai di pipi. Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang penasaran sambil tangannya memegang secangkir teh dan roti. Oh, saya percaya, tidak ada orang yang pernah mencintai saya seperti yang dia lakukan dan saya harus melupakan “bunga” itu sendiri.

Itulah hidup, atau boleh dikatakan, cinta, ketika seseorang dikelilingi dengan cinta. Kemudian perasaan itu mulai berangsur-angsur hilang dan ketika kita mengabaikan cinta sejati yang berada diantara kedamaian dan kesepian.

Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya, bahkan dalam bentuk yang sangat kecil dan dangkal, atau bahkan tidak punya bentuk, bisa juga dalam bentuk yang tidak ingin kita ketahui.

Bunga, saat-saat yang romantis hanyalah bentuk awal dari hubungan. Diatas semua ini, pilar cinta sejati berdiri dan itulah kehidupan kita.

Karya Ranny Khoirunisa, 18514928 – 1PA15

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

TUGAS PORTOFOLIO 2

MAKALAH

PENGEMBANGAN KREATIVITAS & KEBERBAKATAN

TUGAS PORTOFOLIO 2

Tugas ini dibuat untuk memenuhi nilai tugas Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan

UG - Lambang Gunadarma

Dosen Pengajar :

NITA SRI HANDAYANI, SPsi

Disusun Oleh :

RANNY KHOIRUNISA (18514928)

1PA15

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2015

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji dan syukur penulis haturkan  kehadirat ALLAH SWT, atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Tugas Portofolio 2”.

Makalah ini dibuat dalam rangka memahami teori-teori mengenai kreativitas dan keberbakatan serta segala yang berkaitan dengannya. Selain itu, tugas ini dibuat untuk melaksanakan tugas sebagai seorang mahasiswa, serta untuk memenuhi nilai tugas Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan. Dalam proses pembuatan makalah ini tentu penulis mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran. Untuk itu penulis ucapkan terima kasih kepada Ibu Nita Sri Handayani, SPsi selaku dosen Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan serta rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan aspirasinya dalam pembuatan makalah.

Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.

 Bekasi, April 2015

 Penulis

 BAB I

PENDAHULUAN

 A. LATAR BELAKANG

Bakat adalah anugrah yang tidak boleh disia-siakan dan harus dikembangkan secara maksimal. Setiap manusia terlahir dengan memiliki bakat tertentu. Bakat adalah sesuatu yang sudah dimiliki secara alamiah, yang mutlak memerlukan latihan untuk membangkitkan dan mengembangkannya Seperti halnya bakat, kreativitas yang dimiliki oleh seseorang juga anugrah yang harus dipergunakan secara tepat sasaran.

Kreativitas, disamping bermakna baik untuk pengembangan diri maupun untuk pembangunan masyarakat , juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Kreativitas erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Kreativitas selalu berada dibelakang sebuah penemuan besar.

Kreativitas dan bakat sangat dibutuhkan individu untuk bisa melewati seleksi alam. Perpaduan keduanya juga sangat diperlukan untuk menghasilkan produk kreativitas yang bermanfaat.

B. BATASAN MASALAH

  1. Apa yang dimaksud dengan motivasi intrinsik untuk kreativitas?
  2. Apa saja kondisi eksternal yang mendorong perilaku kreatif?
  3. Apa teori yang melandasi proses kreatif menurut Wallas?
  4. Apa isi dari teori tentang belahan otak kanan dan kiri?
  5. Apa isi dari teori tentang penilaian dalam hukum paten?
  6. Apa isi dari teori tentang besemer dan triffinger?
  7. Apa isi dari teori tentang penilaian kreatif dan mengarang?
  8. Apa isi dari teori tentang pengertian keberbakatan?
  9. Apa isi dari teori tentang pengertian kreativitas?
  10. Apa isi dari teori tentang hubungan pengertian keberbakatan dan kreativitas?

C. TUJUAN PENULISAN

  1. Untuk mengetahui motivasi intrinsik untuk kreativitas.
  2. Untuk mengetahui kondisi eksternal yang mendorong perilaku kreatif.
  3. Untuk mengetahui teori yang melandasi proses kreatif menurut Wallas.
  4. Untuk mengetahui isi dari teori tentang belahan otak kanan dan kiri.
  5. Untuk mengetahui penilaian dalam hukum paten.
  6. Untuk mengetahui model besemer dan triffinger.
  7. Untuk mengetahui model penilaian kreatif dan mengarang.
  8. Untuk mengetahui pengertian keberbakatan.
  9. Untuk mengetahui pengertian kreativitas.
  10. Untuk mengetahui hubungan pengertian keberbakatan dan kreativitas.

D. MANFAAT PENULISAN

  1. Menambah wawasan mengenai kreativitas dan keberbakatan.
  2. Mengetahui pandangan para tokoh mengenai proses kreativitas dan keberbakatan.
  3. Mengetahui teori-teori tentang kreativitas dan keberbakatan.

 BAB II

PEMBAHASAN 

A. TEORI PENDORONG KREATIVITAS

1. Motivasi Intrinsik Untuk Kreativitas

Setiap individu memiliki kecenderungan atau dorongan untuk dapat mewujudkan potensi dan bakat yang dimilikinya, mewujudkan dirinya, dorongan berkembang menjadi lebih matang, dorongan mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitasnya yang sering dikenal dengan mengaktualisasikan dirinya secara nyata.Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu. Artinya, seseorang melakukan tindakan atau perilaku  tidak berasal dari motif-motif atau dorongan-dorongan yang berasal dari luar diri. Motivasi intrinsik merupakan motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.Motivasi Intrinsik juga dikatakan sebagai motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).

Kreativitas setiap individu, dalam organisasi sebagai ilustrasi, ditentukan oleh tiga komponen: keahlian, keterampilan berpikir kreatif, dan motivasi. Keterampilan berpikir kreatif menentukan seberapa fleksibel dan imajinatif orang-orang dalam organisasi saat menghadapi masalah.Niat dari dalam diri untuk memecahkan masalah yang ada, biasanya justru membawa pada solusi-solusi yang lebih kreatif.Ketimbang misalnya bila motivasi memecahkan masalah itu muncul atau ada karena ingin memperoleh imbalan finansial.Komponen motivasi ini disebut motivasi intrinsik.Ini merupakan salah satu motivasi yang dapat dengan cepat dipengaruhi keberadaannya oleh kondisi lingkungan kerja.

Berbeda dari motivasi ekstrinsik, motivasi intrinsik berkaitan dengan keinginan dan minat dari dalam diri untuk melakukan sesuatu (internal desire) yang mulia. Orang akan lebih kreatif bila ia merasa termotivasi, utamanya oleh karena minat, kepuasan, dan tantangan dari pekerjaan itu sendiri. Jadi, termotivasi bukan karena tekanan-tekanan eksternal, seperti uang atau kendali ketat sang atasan. Mumford dan Gastafson (1988 dalam Ng Aik Kwang, 2001:4) seorang yang kreatif terbuka untuk menerima pengalaman hidup, memiliki minat dalam hidup dan tertarik untuk mendalami ide-ide yang kompleks, sehingga dapat mengembangkan dan menggunakan model mental yang kompleks untuk memecahkan masalah dalam dunia nyata. Walaupun kerja kreatif telah dijadikan pertimbangan, namun model mental yang kompleks belum mencukupi. Karena Kreativitas sebagai ide yang abstrak dan tidak dapat diukur (untested) harus diterjemahkan menjadi tindakan yang konkret. Kreativitas dengan menggunakan teknik penilaian secara konsensus (consensual assesment technique) (Ng Aik Kwang, 2011:5).

Ambile menyatakan suatu produk atau respon disebut kreatif apabila beberapa penelitian yang sesuai secara bebas menyetujui bahwa itu disebut kreatif.Peneliti yang sesuai dalam kompetensi melukis, arsitek dalam kompetensi disain dan penulis (writers) dalam kompotensi mengarang. Dengan menggunakan teknik penilaian konsensus terhadap Kreativitas seperti tersebut di atas, Ambile dan teman-teman telah melakukan pelbagai studi empiris yang menekankan motivasi intrinsik, yang menyenangi apa yang sedang ia lakukan, dengan tingkah laku kreatif. Peran penting dari motivasi instrinsik digambarkan oleh Amabile (dalam Ng Aik Kwang, 2001:6) dalam model komponen Kreativitas yang terdiri dari tiga komponen penting:

  1. Keterampilan dalam ranah yang relevan (domain-relevant skill) yang mengacu pada pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang berkaitan dengan ranah khusus dimana seorang yang kreatif tertarik.
  2. Keterampilan yang relevan dengan Kreativitas (creativity-relevant skill) yang mengacu pada kemampuan kognisi, seperti kemampuan berpikiran divergen, sebaik seperti ciri-ciri kepribadian seperti keterbukaan terhadap pengalaman, kecondongan (penchant) mengambil resiko, toleransi yang besar terhadap kebermaknaan ganda (ambiquitas).
  3. Terakhir adalah motivasi intrinsik yang mengacu pada keinginan untuk melakukan suatu tugas yang masih dipertanyakan. Tanpa adanya motivasi instrinsik ini, ia akan mengahadapi kesulitan kesulitan untuk tetap pada jalurnya atau pendapatnya, terutama dengan banyaknya hambatan yang ia hadapi, misalnya hadiah eksternal yang mempengaruhi untuk meninggalkan idenya.

Pendekatan sistem, ketiga pendekatan yang telah diuraikan di atas masih memerlukan adanya aspek kunci, karena Kreativitas tidak ada akan terjadi dalam keadaan sosial yang hampa (vacum). Sebaliknya justru terdapat hubungan yang erat antara seseorang yang kreatif dengan dunia sosialnya, dimana ia dapat menbentuk aktivitas kreatifnya.

2. Kondisi Eksternal yang Mendorong Perilaku Kreatif

Kreativitas dapat berkembang dalam suasana non-otoriter, yang memungkinkan individu untuk berpikir dan menyatakan diri secara bebas, dan di mana sumber dari pertimbangan evaluatif adalah internal (Rogers, dalam Vernon, 1982).

Carl Rogers (dalam Vernon, 1982) menegaskan bahwa satu persyaratan utama bagi berkembangannya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan.Kebebasan untuk berpikir, menyatakan pikiran, mencipta, yang dapat kita ringkaskan pada moyangnya segala rupa kebebasan yang menjadi hak asasi manusia, yakni adanya kebebasan melakukan pilihan (freedom of choice).

Menurut pengalaman Rogers dalam psikoterapi, penciptaan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis memungkinkan timbulnya kreatifitas yang konstruktif.

  1. Keamanan Psikologis

Menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya (memberi kepercayaan, yang dapat memberi efek menghayati suasana keamanan). Mengusahakan suasana yang ada didalamnya evaluasi eksternal tidak ada (atau sekurang-kurangnya tidak bersifat atau punya mempunyai efek mengancam). Memberikan pengertian secara empatis (dapat ikut menghayati) perasaan, pemikiran, tindakan serta dapat melihat sudut pandang, dan tetap menerimanya, memberi rasa aman.

  1. Kebebasan Psikologis

Jika setiap orang memiliki kesempatan untuk bebas mengeksperiskan secara simbolis pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya,  permissiveness ini memberikan pada seseorang kebebasan dalam berpikir atau merasakan sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya. Mengekspresikan tindakan konkret perasaan-perasaannya (misalnya dengan memukul) tidak selalu dimungkinkan, karena hidup dalam masyarakat selalu ada batas-batasnya, tetapi eksperesi secara simbolis hendaknya dimungkinkan.

Menurut Simpson dalam Vernon (1982 dalam Utami Munandar 1999:28) dorongan internal merupakan: “the intiative that one manifest by his power to break away from the usual sequence pf thought”. Insitiatif yang dimanisfestasikan dengan dorongan untuk keluar dari seluruh pemikiran biasa. Mengenai dorongan dari lingkungan, ada lingkungan yang tidak menghargai imajinasi atau fantasi dan menekankan Kreativitas dan inovasi, kreativitas juga tidak akam berkembang dalam budaya yang terlalu menekan konformitas dan tradisi yang kurang terbuka terhadap perubahan atau perkembangan baru (Utami Munandar 1999:28-29).

B. MENJALANKAN TEORI-TEORI YANG MELANDASI PROSES KREATIF

1. Teori Wallas

Teori wallas dikemukakan tahun 1926 dalam bukunya “the art of thought” (Piirto, 1992), yang menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap, yaitu persiapan (1), inkubasi (2), iluminasi (3), dan verifikasi (4).

  1. Sesorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan cara berfikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang dan sebagainya.
  2. Tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi “mengeramnya” dalam alam pra-sadar.
  3. Tahap timbulnya “insight” atau Aha-Erlebnis” saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi/gagasan baru.
  4. Tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Dengan kata lain, proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti oleh proses konvergensi (pemikiran kritis).

Cropley (1994) menunjukkan hubungan antara tahap-tahap proses kreatif dari Wallas (persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi) dan produk yang psikologis yang berinteraksi : hasil berpikir konvergen , memperoleh pengetahuan dan ketrampilan, jika dihadapkan dengan situasi yang menuntut tindakan yaitu pemecahan masalah  individu menggabungkan unsur-unsur mental sampai timbul “konfigurasi”. Konfigurasi dapat berupa gagasan, model, tindakan cara menyusun kata, melodi atau bentuk.

2. Teori Tentang Belahan Otak Kanan-Kiri

Pendekatan psiko-biologis kreativitas adalah pembahasan yang mencoba menjelaskan kreativitas dengan berdasarkan fungsi biologis organ tubuh manusia khususnya fungsi otak.Otak besar (cortex) terbagi atas dua belahan yang dihubungkan oleh sebuah bundelan serabut yang saling menghubungkan (interconnecting) yang disebut sebagai corpus callosum. Belahan kanan korteks berfungsi untuk mengontrol tubuh bagian kiri, dan belahan kiri korteks mengontrol tubuh bagian kanan.

Belahan kiri dan kanan otak menanggapi jenis pengalaman yang berbeda dan menanggapinya secara khas.Wittrock (1980 dalam Clark, 1988) menyatakan bahwa kedua belahan otak boleh berbeda satu sama lain karena strategi pengodean yang digunakan dan bukan karena jenis informasi yang dikodekan. Menurut teori ini, belahan otak kiri bertanggung jawab bagi pemikian linear, sequential, analytic dan rational.Sedangkan pemikiran-pemikiran metaphoric, spatial, holistic merupakan tanggang jawab belahan otak kanan.

Bagan Proses Pimikiran Otak

Otak Kiri Otak Kanan
Vertikal

Kritis

Strategis

Analistis

Lateral

Hasil

Kreatif

Keterangan:

Berpikir Vertikal. Suatu proses bergerak selangkah demi selangkah menuju tujuan Anda, seolah-olah Anda sedang menaiki tangga.

Berpikir Lateral. Melihat permasalahan Anda dari beberapa sudut baru, seolah-olah melompat dari satu tangga ke tangga lainnya.

Berpikir Kritis. Berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat, seperti menilai kelayakan suatu gagasan atau produk.

Berpikir Analitis. Suatu proses memecahkan masalah atau gagasan Anda menjadi bagian-bagian.  Menguji setiap bagian untuk melihat bagaimana bagian tersebut saling cocok satu sama lain, dan mengeksplorasi bagaimana bagian-bagian ini dapat dikombinasikan kembali dengan cara-cara baru.

Berpikir Strategis. Mengembangkan strategi khusus untuk perencanaan dan arah operasi-operasi skala besar dengan melihat proyek itu dari semua sudut yang mungkin. Berpikir tentang Hasil.Meninjau tugas dari perspektif solusi yang dikehendaki. Berpikir Kreatif. Berpikir kreatif adalah pemecahan masalah dengan menggunakan kombinasi dari semua proses.

Corteks dengan Corpus Callosum

Sumber: Clark (1988) : Growing up gifted

Perlu diingat bahwa kedua belahan otak kanan dan kiri berfungsi saling melengkapi, bekerja secara kooperatif dalam memproses informasi (Clark, 1988). Sedangkan dikotomi mental sebagai tercemin dalam uraian fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri oleh Springer, S.P dan Deuthsch, G. (1981 dalam Utami Munandar 1999)

Tabel dikotomi otak:

No. Belahan Otak Kiri Belahan Otak kanan
1. Intelek Intuisi
2. Kovergen Divergen
3. Intelektual Emosional
4. Rasional Mataforik, intuitif
5. Verbal Non verbal
6. Horizontal Vertikal
7. Kongkret Abstrak
8. Realistis Impulsif
9. Diarahkan Bebas
10. Diferensial Eksistensial
11. Sekuensial Multipel
12. Historikal Tanpa batas waktu
13. Analisis Sintesis, holistic
14. Eksplisit Implisit
15. Objektif Subjektif
16. Suksesif Simultan

Sumber: Springer, S.P. dan Deutch, G. 1981 (dalam Utami Munandar 199)

Dari pandangan Wittrock (1980) dan Spinger dan Deutch (1981) jelaslah bahwa kreativitas merupakan fungsi belahan otak kanan, tercermin dari fungsi divergen, metaforik, intuitif, sintesis, holistik yang semua fungsi tersebut merupakan fungsi kreativitas.

Otak dapat distimulus agar memiliki rangsang yang baik.Jika otak memiliki rangsang yang baik, maka tidak diragukan lagi kinerjanya.Otak kiri memiliki fungsi atau peranan yang lebih dibanding otak kanan ketika kita sedang berpikir, tentang intelegensi seseorang, dan rasionalitas, sedangkan otak kanan manusia memiliki kecenderungan dalam keindahan, seni, dan kegiatan non verbal.

C. TEORI-TEORI YANG MELANDASI PRODUK KREATIF

1. Penilaian Produk Penemuan Dalam Hukum Paten

Teori Tentang Hukum paten dalam Penilaian Produk Penemuan

Hukum paten AS mempertimbangkan unsur-unsur berikut dalam memberikan hak paten:

  • Kegiatan intelektual yang bermutu
  • Gagasannya jelas
  • Jumlah eksperimentasi penting
  • Telah mengalami kegagalan
  • Berguna dan merupakan kemajuan
  • Kreatif
  • Harus memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi

Patokan dari hokum paten cukup membantu,tetapi tidak spesifik untuk penilaian secara ilmiah dibutuhkan perangkat criteria yang disetujui untuk menilai produk kreatif dan kemampuan kreatif.

2. Model Besemer Dan Treffinger

Produk kreatif dapat digolongkan menjadi tiga kategori,yaitu:

  1. Kebaruan (novelty). Sejauh mana produk itu baru,tekhnik baru,bahan dan konsep baru,dampak produk terhadap masa depan.
  2. Pemecahan (resolution). Menyangkut derajat sejauh mana produk itu memenuhi kebutuhan dari situasi bermasalah. Produk yang dihasilkan harus bermakna,logis,dan berguna karena dapat diterapkan secara praktis.
  3. Elaborasi dan sintesis. Sejauh mana produk itu menggabung unsur-unsur yang tidak sama menjadi keseluruhan yang canggih dan koheren. Produk yang dihasilkan harus organis,elegan,kompleks,dapat dipahami,dan menunjukkan keterampilan.

3. Model Penilaian Kreativitas Dalam Mengarang

Meliputi empat kriteria dari berpikir kreatif, yaitu: kelancaran, kelenturan, keaslian, dan kerincian.

Menurut Haefele ,Suatu produk kreatif tidak hanya harus baru tetapi juga diakui kebermaknaannya. Produk yang saya hasilkan memang sudah ada yang membuatnya dalam bentuk yang lain tetapi produk yang saya hasilkan ada unsure kebermaknaannya yaitu menghias dinding kamar saya.

D. KEBERBAKATAN DAN KREATIVITAS MENJELASKAN PENGERTIAN KEBERBAKATAN DAN KAITAN DENGAN PENGERTIAN KREATIVITAS

1. Pengertian Keberbakatan

Apa yang dimaksud “keberbakatan” dan “anak berbakat”? Dalam kepustakaan yang ditemukan berbagai istilah dan definisi mengenai anak berbakat dan keberbakatan. Istilah ini yang menunjukkan suatu perkembangan dari pendekatan “uni-dimensional” (seperti definisi dari Terman yang menggunakan inteligensi sebagai kriteria tunggal untuk mengidentifikasi anak berbakat, yaitu IQ 140) ke pendekatan “multi-dimensional”. Pendekatan ini yang mengakui keragaman konsep dan kriteria keberbakatan, yaitu memerlukan cara-cara dan alat-alat yang berbeda-beda pula untuk mengidentifikasinya.

  • Definisi ESOE tentang keberbakatan

Dalam seminar nasional mengenai Alternatif Program Pendidikan bagi Anak Berbakat yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan bekerja sama dengan Yayasan Pengembangan Kreativitas pada tanggal 12-14 November 1981 di Jakarta (Utami Munandar, 1982), disepakati bahwa :

Anak berbakat adalah anak yang oleh orang-orang profesional diidentifikasi sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan unggul. Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri.

Kemampuan-kemampuan tersebut, baik secara potensional maupun yang telah nyata, meliputi :

1. Kemampuan intelektual umum

Para pendidik biasanya mendefinisikan hal ini berdasarkan skor yang tinggi dari hasil tes inteligensi (biasanya 2 deviasi standar di atas mean) pada pengukuran individual ataupun kelompok. Orang tua dan guru sering dapat mengenali anak yang memiliki bakat intelektual umum ini dari keluasan pengetahuan umumnya dan ketinggian tingkat kosa kata, ingatan, pengetahuan kata-kata abstrak, serta daya nalar abstraknya

2. Kemampuan akademik khusus

Siswa yang memiliki bakat akademik spesifik dapat dikenali dari kinerjanya yang menonjol dalam tes prestasi atau tes bakat dalam satu bidang tertentu seperti bahasa atau matematika.

3. Kemampuan berpikir kreatif – produktif

Kreativitas yang menekankan produktivitas kreativitas adalah munculnya hasil ide yang diperoleh melalui interaksi antara keunikan individu dengan lingkungannya

4. Kemampuan memimpin

Kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengarahkan individu-individu atau kelompok-kelompok ke satu keputusan atau tindakan bersama. Siswa yang menunjukkan keberbakatan dalam kemampuan kepemimpinan mampu menggunakan keterampilan kelompok dan bernegosiasi dalam situasi- situasi yang sulit. Banyak guru dapat mengenali kepemimpinan dari minat dan keterampilan siswa dalam pemecahan masalah. Karakteristik kepemimpinan mencakup rasa percaya diri, tanggung jawab, kerjasama, kecenderungan untuk mendominasi, dan kemampuan untuk mengadaptasikan diri dengan mudah pada situasi-situasi baru. Siswa seperti ini dapat diidentifikasi dengan instrumen-instrumen seperti The Fundamental Interpersonal Relations Orientation Behavior (FIRO-B).

5. Kemampuan dalam salah satu bidang seni

Bakat seni merupakan keunggulan dalam menggambar, melukis, memahat, dan berbagai ekspresi artistik yang dapat ditangkap oleh mata.Sedangkan bakat pertunjukan menunjuk pada keunggulan baik dalam musik instrumental maupun vokal, teater, dan tari.Siswa-siswa ini dapat diidentifikasi dengan menggunakan instrumen deskripsi tugas seperti the Creative Products Scales, yang dikembangkan untuk Detroit Public Schools oleh Patrick Byrons dan Beverly Ness Parke di Wayne State University.

6. Kemampuan psikomotor (seperti dalam olahraga)

Ini mencakup kemampuan kinesthetik motor seperti keterampilan praktis, spasial, mekanik, dan fisik. Kemampuan tersebut jarang dipergunakan sebagai kriteria dalam program keberbakatan. Definisi ini merupakan adopsi dari definisi U.S. Office of Education ( Maryland, 1972) dan dalam kepustakaan biasanya disebut sebagai definisi USEO.

  • Definisi dari Abraham Maslow

Maslow membedakan antara “kreativitas aktualisasi diri” dan “kreativitas talenta khusus”. Orang-orang dengan kreativitas talenta khusus memiliki bakat atau talenta kreatif yang luar biasa dalam bidang seni, sastra, musik, teater, sains, bisnis, atau bidang lainnya. Orang-orang ini bisa saja menunjukkan penyesuaian diri dan aktualisasi diri yang baik, tetapi mungkin juga tidak.

Orang-orang kreatif yang mampu mengaktualisasi diri adalah sehat mental, hidup sepenuhnya dan produktif, dan cenderung menghadapi aspek kehidupannya secara fleksibel dan kreatif. Implikasi dari pembedaan antara keduanya krativitas aktualisasi diri dan kreativitas talenta khusus adalah penekanan pada pentingnya ciri-ciri afektif dari kreativitas, ciri kepribadian, sikap, motivasi, dan predisposisi untuk berpikir kreatif.

  • Konsepsi Renzulli tentang Keberbakatan

Konsepsi “Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan-kawan (1981), yang menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria (persyaratan) keberbakatan ialah keterkaitan antara :

  1. Kemampuan umum di atas rata-rata,
  2. Kreativitas di atas rata-rata, dan
  3. Pengikatan diri terhadap tugas (task commitment cukup tinggi)

Menurut Renzulli, anak berbakat adalah mereka yang memiliki atau berkemampuan mengembangkan gabungan ketiga kelompok sifat tersebut dan mengaplikasikannya pada bidang kinerja kemanusiaan yang bernilai.

  • Robert Sternberg dan Robert Wagner (1982)

Mendefinisikan keberbakatan (giftedness) sebagai “a kind of mental self-management”. Manajemen mental kehidupan seseorang yang konstruktif dan bertujuan mempunyai tiga elemen dasar, yaitu: mengadaptasikan diri pada lingkungan, memilih lingkungan baru, dan membentuk lingkungan.

Menurut Sternberg dan Wagner, kunci psikologis dasar keberbakatan intelektual terdapat dalam keterampilan berwawasan (insight skills) yang mencakup tiga proses utama:

  1. Memisahkan informasi yang relevan dari informasi yang irrelevan;
  2. Menggabungkan kepingan-kepingan informasi yang tidak berkaitan menjadi satu keseluruhan yang terpadu;
  3. Mengaitkan informasi yang baru diperoleh dengan informasi yang sudah diperoleh sebelumnya.

Sternberg dan Wagner menekankan kemampuan memecahkan masalah dan memandang siswa berbakat sebagai individu yang mampu memproses informasi secara cepat dan mempergunakan keterampilan berwawasan.

2. Pengertian Kreativitas

Salah satu masalah yang kritis dalam meneliti, mengidentifikasi, dan mengembangkan kreativitas ialah bahwa ada begitu banyak definisi tentang kreativitas, tetapi tidak ada satu definisi pun yang dapat diterima secara universal. Mengingat kompleksitas dari konsep kreativitas, agaknya hal ini tidak mungkin dan tidak perlu, karena kreativitas dapat ditinjau dari berbagai aspek, yang kendatipun saling berkaitan tetapi penekanannya berbeda-beda. Rodhes (1961, dalam Isaksen, 1987) dalam menganalisis lebih dari 40 definisi tentang kreativitas, menyimpulkan bahwa pada umumnya kreativitas dirumuskan dalam istilah pribadi (person), proses, dan produk. Kreativitas dapat pula ditinjau dari kondisi pribadi dan lingkungan yang mendorong (press) individu ke perilaku kreatif. Rodhes menyebut keempat jenis definisi tentang kreativitas ini sebagai “four p’s of creativity “,yaitu dimensi Person, Proses, Press dan Product.

Kebanyakan definisi kreativitas berfokus pada salah satu dari empat P ini atau kombinasinya. Keempat P ini saling berkaitan: pribadi kreatif yang melibatkan diri dalam menghasilkan produk kreatif, dan dengan dukungan dan dorongan (press) dari lingkungan menghasilkan produk kreatif. Torrance (1988) yang memilih definisi proses tentang kreativitas, menjelaskan hubungan antara keempat P tersebut sebagai berikut: dengan berfokus pada proses kreatif, dapat ditanyakan jenis pribadi yang bagaimanakah akan berhasil dalam proses tersebut, macam lingkungan yang bagaimanakah akan memudahkan proses kreatif, dan produk yang bagaimanakah yang dihasilkan dari proses kreatif?

Marilah kita melihat beberapa definisi tentang kreativitas berdasarkan empat P, menurut para pakar.

  • Definisi Pribadi

Menurut Hulbeck (1945) “tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya”. Fokus pada segi pribadi jelas dalam definisi ini.

Definisi yang lebih baru tentang kreativitas diberikan dalam “ three-facet model of creativity” oleh Sternberg (1988), yaitu “kreativitas merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis: inteligensi, gaya kognitif, dan kepribadian/motivasi. Bersama-sama ketiga segi dari alam pikiran ini membantu memahami apa yang melatarbelakangi individu yang kreatif “.

Inteligensi meliputi terutama kemampuan verbal, pemikiran lancar, pengetahuan, perencanaan, perumusan masalah, penyusunan strategi, representasi mental, ketrampilan pengambilan keputusan, keseimbangan serta integrasi intelektual secara umum.

Gaya kognitif atau intelektual dari pribadi yang kreatif menunjukkan kelonggaran dari keterikatan pada konvensi menciptakan aturan sendiri, melakukan hal dengan caranya sendiri, menyukai masalah yang tidak terlau terstruktur, senang menulis, merancang, lebih tertarik pada jabatan yang kreatif, seperti pengarang, saintis, artis, atau arsitek.

Dimensi kepribadian/motivasi meliputi ciri-ciri seperti fleksibilitas, toleransi terhadap kedwiartian, dorongan untuk berprestasi dan mendapat pengakuan, keuletan dalam menghadapi rintangan, dan pengambilan risiko yang moderat.

  • Definisi Proses

Definisi pada dimensi proses upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada prosesberpikir sehingga memunculkan ide-ide unik atau kreatif.

Utami Munandar menerangkan bahwa kreativitas adalah sebuah proses atau kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibititas), dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci), suatu gagasan. Pada definisi ini lebih menekankan pada aspek proses perubahan (inovasi dan variasi). Selain pendapat yang diuraikan diatas ada pendapat lain yang menyebutkan proses terbentuknya kreativitas sebagai berikut :

Wallas (1976) dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001 mengemukakan empat tahap dalam proses kreatif yaitu :

Tahap Persiapan; adalah tahap pengumpulan informasi atau data sebagai bahan untukmemecahkan masalah. Dalam tahap ini terjadi percobaan-percobaan atas dasar berbagai pemikiran kemungkinan pemecahan masalah yang dialami.

Tahap Inkubasi; adalah tahap dieraminya proses pemecahan masalah dalam alam prasadar. Tahap ini berlangsung dalan waktu yang tidak menentu, bisa lama (berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun), dan bisa juga hanya sebentar (hanya beberapa jam, menit bahkan detik). Dalam tahap ini ada kemungkinan terjadi proses pelupaan terhadap konteksnya, dan akan teringat kembali pada akhir tahap pengeraman dan munculnya tahap berikutnya.

Tahap Iluminasi; adalah tahap munculnya inspirasi atau gagasan-gagasan untuk memecahkan masalah. Dalam tahap ini muncul bentuk-bentuk cetusan spontan, seperti dilukiskan oleh Kohler dengan kata-kata now, I see itu yang kurang lebihnya berarti “oh ya”.

Tahap Verifikasi; adalah tahap munculnya aktivitas evaluasi tarhadap gagasan secara kritis, yang sudah mulai dicocokkan dengan keadaan nyata atau kondisi realita.

Dari dua pendapat ahli diatas memandang kreativitas sebagai sebuah proses yang terjadi didalam otak manusia dalam menemukan dan mengembangkan sebuah gagasan baru yang lebih inovatif dan variatif (divergensi berpikir).

  • Definisi Produk

Barron (1969) menyatakan bahwa “kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru”. Begitu pula menurut Haefele (1962), “Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial”. Definisi Haefele ini menunjukkan bahwa tidak keseluruhan produk itu harus baru, tetapi kombinasinya unsur-unsurnya bisa saja sudah ada lama sebelumnya. Definisi Haefele menekankan pula bahwa suatu produk kreatif tidak hanya harus baru tetapi juga diakui sebagai bermakna.

  • Definisi Press

Definisi dan pendekatan kreativitas yang menekankan faktor press atau dorongan, baik dorongan internal (diri sendiri) berupa keinginan dan hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif, maupun dorongan eksternal (dari lingkungan sosial dan psikologis). Definisi Simpson (1982) dalam S. C. U. Munandar 1999, merujuk pada aspek dorongan internal dengan rumusannya sebagai “The initiative that one manifests by his power to break away from the usual sequence of thought”. Mengenai “press” dari lingkungan, ada lingkungan yang menghargai imajinasi dan fantasi, dan menekankan kreativitas serta inovasi. Kreativitas juga kurang berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan tradisi, dan kurang terbukanya terhadap perubahan atau perkembangan baru.

3. Hubungan Pengertian Keberbakatan dan Kreativitas

Konsepsi “Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan-kawan (1981), yang menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria (persyaratan) keberbakatan ialah keterkaitan antara:

  1. Kemampuan umum di atas rata-rata,
  2. Kreativitas di atas rata-rata, dan
  3. Pengikatan diri terhadap tugas (task commitment cukup tinggi)

Kemampuan di atas rata – rata

Salah satu kesalahan dalam identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang menentukan keberbakatan dan produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman (1959) yang dalam penelitiannya terhadap anak berbakat hanya menggunakan kriteria inteligen, dalam tulisan-tulisannya kemudian mengakui bahwa inteligensi tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan. Wallach (1976 ) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif produktif.

Dalam istilah “kemampuan umum” tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh tes inteligensi, prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir kreatif. Sebagai contoh adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan spasial, kelancaran dalam memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan salah atu kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task-commitment”.

Kreativitas di atas rata -rata

Kelompok (cluster) kedua yang dimiliki anak/orang berbakat ialah kreativitas sebagai kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk  melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.

Pengikatan diri terhadap tugas

Kelompok karakteristik yang ketiga yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif ialah pengikatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun mengalami macam-macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.

Galton meskipun menganut pandangan dasar genetis untuk keberbakatan dan “genius”, namun dia percaya bahwa motivasi intrinsic dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai prestasi unggul.

Manfaat dari definisi Renzulli ialah melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan: kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi (pengikatan diri terhadap tugas).

Jadi, menurut definisi Renzulli, seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi seseorang yang berbakat belum tentu memiliki kreativitas.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kreativitas lebih bersifat eksplorasi atau pengembangan pemikiran yang bersifat umum tentang apa saja dan lebih tertumpu kepada individu atau organisasi yang menggalinya atau mengembangkannya.

Terlepas dari kenyataan bahwa daya kreativitas tentu saja sangat terkait dengan potensi genetik yang diperoleh seseorang dari orangtuanya. Lingkungan juga mempunyai peranan besar. Tanpa rangsangan yang tepat, kreativitas anak menjadi kurang maksimal. Mengapa tidak maksimal? Karena di masa kini, daya kreativitas tertinggi menjadi acuan kesuksesan. Seperti yang dikatakan (Selo Soemardjan 1983) Timbul dan tumbuhnya kreativitas dan selanjutnya berkembangnya suatu kresi yang diciptakan oleh seseorang individu tidak dapat luput dari pengaruh kebudayaan serta pengaruh masyarakat tempat individu itu hidup dan bekerja.

Banyak motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu tujuan.Sejak anak lahir, gerakannya belum berdifensiasi, selanjutnya baru berkembang menjadi pola dengan kecenderungan kiri atau kanan.Hampir setiap orang mempunyai sisi yang dominan.Pada umunya orang lebih biasa menggunakan tangan kanan (dominasi belahan otak kiri), tetapi ada sebagian orang kidal (dominan otak kanan).Terdapat “dichotomia” yang membagi fungsi mentala menjadi fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri.Kreativitas memiliki ketergantungan yang sangat terhadap otak.

B. SARAN

Penulisan dan pengkajian mengenai kreativitas ini adalah telaah awal yang harus dikembangkan dan dilanjutkan lebih dalam lagi. Kajian-kajian tentang pengembangan kreativitas & keberbakatan masih sangat perlu untuk ditingkatkan, masih banyak teori lain tentang kreativitas menurut para ahli lainnya. Diharapkan jiwa kreatif itu ada di setiap diri kita untuk melahirkan sesuatu yang selalu baru dan positif guna mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

 DAFTAR PUSTAKA

 Heru Basuki, A. M. (2005). KREATIVITAS, KEBERBAKATAN INTELEKTUAL DAN FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DALAM PENGEMBANGANNYA. Jakarta: Gunadarma

http://sharahhanifah.blogspot.com/2015/03/pengertian-kreativitas-dan-teori.html 17-04-2015/17:48

https://indahkusumadewi.wordpress.com/b-teori-mengenai-kreativitas/ 18-04-2015/16:37

http://10060ahmadfauji.blogspot.com/2011/10/teori-empat-p-yang-melandasi.html 18-04-2015/16:41

http://unaisatuzzahro.blogspot.com/2011/11/makalah-psikologi-kreativitas.html 18-04-2015/16:46

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

TUGAS PORTOFOLIO 1

MAKALAH

PENGEMBANGAN KREATIVITAS & KEBERBAKATAN

TUGAS PORTOFOLIO 1

Tugas ini dibuat untuk memenuhi nilai tugas Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan

UG - Lambang Gunadarma

Dosen Pengajar :

NITA SRI HANDAYANI, SPsi

Disusun Oleh :

RANNY KHOIRUNISA (18514928)

1PA15

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2015

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji dan syukur penulis haturkan  kehadirat ALLAH SWT, atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Tugas Portofolio 1”.

Makalah ini dibuat dalam rangka memahami apa itu pengembangan kreativitas dan keberbakatan dan segala yang berkaitan dengannya. Selain itu, tugas ini dibuat untuk melaksanakan tugas sebagai seorang mahasiswa, serta untuk memenuhi nilai tugas Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan. Dalam proses pembuatan makalah ini tentu penulis mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran. Untuk itu penulis ucapkan terima kasih kepada Ibu Nita Sri Handayani, SPsi selaku dosen Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas & Keberbakatan serta rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan aspirasinya dalam pembuatan makalah.

Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.

Bekasi, Maret 2015

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

1. PENGERTIAN KREATIVITAS

Walaupun ada pengakuan ilmiah terhadap pentingnya kreativitas, namun hingga kini hanya sedikit sekali penelitian yang telah dilakukan. Hal itu disebabkan adanya kesulitan metodologi dan karena adanya keyakinan bahwa kreativitas adalah suatu faktor bawaan individual sehingga hanya sedikit yang dapat dilakukan untuk mengendalikannya.

Beberapa pengertian kreativitas menurut para ahli, diantaranya ;

  • Utami Munandar (1995 : 25) kreativitas adalah suatu kemampuan umum untuk menciptakan suatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.
  • Imam Musbikin (2006 : 6) kreativitas adalah kemampuan memulai ide, melihat hubungan yang baru, atau tak diduga sebelumnya, kemampuan memformulasikan konsep yang tak sekedar menghafal, menciptakan jawaban baru untuk soal-soal yang ada, dan mendapatkan pertanyaan baru yang perlu dijawab.
  • Mangunhardjana (1986 : 11) kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya berguna (useful), lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik atau banyak.
  • Sternberg (1988), kreativitas merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis, yaitu intelegensi, gaya kognitif, dan kepribadian/motivasi.
  • Baron (1969) yang menyatakan kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang baru.
  • Supriyadi dalam Yeni Rachmawati dan Euis Kurniati (2005 : 15) mengutarakan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada. Selanjutnya ia menambahkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengimplikasikan terjadinya eskalasi dalam kemampuan berpikir, ditandai oleh suksesi, diskontinuitas, diverensiasi, dan integrasi antara setiap tahap perkembangan.
  • Clark Moustakis (1967), ahli psikologi humanistic menyatakan bahwa kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain.
  • Rhodes, umumnya kreativitas didefinisikan sebagai Person, Process, Press, Product. Keempat P ini saling berkaitan, yaitu Pribadi (Person) kreatif yang melibatkan diri dalam proses (Process) kreatif, dan dengan dorongan dan dukungan (Press) dari lingkungan, menghasilkan produk (Product) kreatif.
  • Hulbeck (1945), “ Creative action is an imposing of one’s own whole personality on the environment in an unique and characteristic way”. Dimana tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya.
  • Haefele (1962), kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna social.
  • Torrance (1988), kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasil-hasilnya.

Dari berbagai pengertian yang dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan makna dari kreativitas penulis mengambil kesimpulan bahwa kreativitas adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru, proses konstuksi ide yang dapat diterapkan dalam menyelesaikan masalah, serta suatu kegiatan yang bermanfaat.

Adapun Definisi kreativitas tergantung pada segi penekanannya, kreativitas dapat didefinisikan kedalam empat jenis dimensi sebagai Four P’s Creativity, yaitu dimensi Person, Proses, Press dan Product sebagai berikut :

  • Definisi kreativitas dalam dimensi Person

Definisi pada dimensi person adalah upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada individu atau person dari individu yang dapat disebut kreatif. “Creativity refers to the abilities that are characteristics of creative people” (Guilford, 1950 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001). “Creative action is an imposing of one’s own whole personality on the environment in an unique and characteristic way (Hulbeck, 1945 dikutip Utami Munandar, 1999). Guilford menerangkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan atau kecakapan yang ada dalam diri seseorang, hal ini erat kaitannya dengan bakat. Sedangkan Hulbeck menerangkan bahwa tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi kreativitas dari dua pakar diatas lebih berfokus pada segi pribadi.

  • Kreativitas dalam dimensi Process

Definisi pada dimensi proses upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada proses berpikir sehingga memunculkan ide-ide unik atau kreatif. “Creativity is a process that manifest in self in fluency, in flexibility as well in originality of thinking” (Munandar, 1977 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001). Utami Munandar menerangkan bahwa kreativitas adalah sebuah proses atau kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibititas), dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci), suatu gagasan. Pada definisi ini lebih menekankan pada aspek proses perubahan (inovasi dan variasi). Dari pendapat diatas kreativitas sebagai sebuah proses yang terjadi didalam otak manusia dalam menemukan dan mengembangkan sebuah gagasan baru yang lebih inovatif dan variatif (divergensi berpikir).

  • Definisi kreativitas dalam dimensi Press

Definisi dan pendekatan kreativitas yang menekankan faktor press atau dorongan, baik dorongan internal diri sendiri berupa keinginan dan hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif, maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis. Definisi Simpson (1982) dalam S. C. U. Munandar 1999, merujuk pada aspek dorongan internal dengan rumusannya sebagai berikut : “The initiative that one manifests by his power to break away from the usual sequence of thought” Mengenai “press” dari lingkungan, ada lingkungan yang menghargai imajinasi dan fantasi, dan menekankan kreativitas serta inovasi. Kreativitas juga kurang berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan tradisi, dan kurang terbukanya terhadap perubahan atau perkembangan baru.

  • Definisi Kreativitas dalam dimensi Product

Definisi pada dimensi produk merupakan upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada produk atau apa yang dihasilkan oleh individu baik sesuatu yang baru/original atau sebuah elaborasi/penggabungan yang inovatif. “Creativity is the ability to bring something new into existence” (Baron, 1976 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001) Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan pada orisinalitas, seperti yang dikemukakan oleh Baron (1969) yang menyatakan bahwa kreatifitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula menurut Haefele (1962) dalam Munandar, 1999; yang menyatakan kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial. Dari dua definisi ini maka kreatifitas tidak hanya membuat sesuatu yang baru tetapi mungkin saja kombinasi dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya.

Dari berbagai pengertian yang dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan makna dari kreativitas yang dikaji dari empat dimensi yang memberikan definisi saling melengkapi. Untuk itu kita dapat membuat berbagai kesimpulan mengenai definisi tentang kreativitas dengan acuan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli.

Dari beberapa uraian mengenai definisi kreativitas yang dikemukakan diatas penulis menyimpulkan bahwa : “Kreativitas adalah proses konstruksi ide yang orisinil (asli), bermanfaat, variatif (bernilai seni) dan inovatif (berbeda/lebih baik)”.

KONSEP DASAR KREATIVITAS BERDASAR 4 P

Strategi 4P yaitu Pribadi, Pendorong, Proses, dan Produk yang menurut para ahli dapat membantu mengembangkan kreatifitas anak jika diterapkan secara benar. Pada dasarnya setiap anak memiliki kreativitas, hanya saja tidak semua anak bisa mengembangkan kreatifitasnya dengan benar. Untuk itu diperlukan peran orang tua dalam mengembangkan kreatifitas tersebut. Melalui strategi 4P ini diharapkan dapat membantu orang tua dalam mengembangkan kreativitas anaknya.

a. Pribadi

Hal pertama yang harus orang tua ketahui dalam upaya mengembangkan kreatifitas anak adalah dengan memahami pribadi mereka, diantaranya dengan :

  • Memahami bahwa setiap anak memiliki pribadi berbeda, baik dari bakat, minat, maupun keinginan.
  • Menghargai keunikan kreativitas yang dimiliki anak, dan bukan mengharapkan hal-hal yang sama antara satu anak dengan anak lainnya, karena setiap anak adalah pribadi yang “unik”, dan kreatifitas juga merupakan sesuatu yang unik.
  • Jangan membanding-bandingkan anak karena tiap anak memiliki minat, bakat, kelebihan serta ketebatasannya masing-masing. Pahamilah kekurangan anak dan kembangkanlah bakat dan kelebihan yang dimilikinya.

b. Pendorong

Dorongan dan motivasi bagi anda sangat berguna bagi anak dalam mengembangkan motivasi instrinsik mereka, dengan begitu mereka akan sendirinya berkreasi tanpa merasa dipaksa dan dituntut ini itu, kita dapat melakukan :

  • Berilah fasilitas dan sarana bagi mereka untuk berkreasi, misalnya melalui mainan-mainan yang bisa merangsang daya kreativitas anak misalnya balok-balok susun, lego, mainan alat dapur dan sebagainya. Hindari memberikan mainan yang tinggal pencet tombol atau mainan langsung jadi.
  • Ciptakan lingkungan keluarga yang mendukung kreatifitas anak dengan memberikan susana aman dan nyaman.
  • Hindari membatasai ruang gerak anak didalam rumah karena takut ada barang-barang yang pecah atau rusak, karena cara ini justru bisa memasung kreativitas mereka, alangkah lebih baik jika anda mau mengalah dengan menyimpan dahulu barang-barang yang mudah pecah ketempat yang aman, atau anda bisa meyediakan tempat khusus bermain anak, dimana anak bebas berkreasi.
  • Disiplin tetap diperlukan agar ide-ide kreatif mereka bisa terwujud.

c. Proses

Proses berkreasi merupakan bagian paling penting dalam pengembangan kreativitas dimana anak anda akan merasa mampu dan senang bersibuk diri secara kreatif dengan aktifitas yang dilakukannya, baik melukis, menyusun balok, merangkai bunga dan sebagainya, beberapa hal yang dapat dilakukan:

  • Hargailah kreasinya tanpa perlu berlebihan, karena secara intuisif anak akan tahu mana pujian yang tulus dan yang mana yang hanya akan basa-basi.
  • Hindari memberi komentar negatif saat anak berkreasi, apalagi disertai dengan perintah ini itu terhadap karya yang sedang dibuatnya, karena hal ini justru dapat menyurutkan semangatnya berkreasi.
  • Peliharalah harga diri anak dengan mengungkapkan terlebih dahulu komentar anda secara positif, misalnya “bunda senang adek bisa membuat menara seperti itu, lain kali adek buat yang lebih tinggi dan tidak mudah ambruk ya.” Dengan demikian anak akan merasa dirinya mampu dan dihargai lingkungannya

d. Produk

Pada tahap ini anak sudah bisa menghasilkan produk kreatif mereka, yang bisa dilakukan:

  • Hargailah hasil kreatifitas mereka meski hasilnya agak kurang memuaskan.
  • Pajanglah karya anak anda di kamar mereka atau tempat-tempat lain yang memungkinkan. Dengan demikian, anak akan merasa bangga karena karyanya dihargai.

2. DEFINISI OPERASIONAL DARI KREATIVITAS

Kreativitas merupakan : “Kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan originalitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkayam memperinci( suatu gagasan”.(Munandar SCU, 1077)

3. DEFINISI KREATIVITAS MENURUT CLARK

Selain memiliki definisi konsepsional, kreativitas juga memiliki definisi oprasional. Sedangkan apa definisi operasional itu? Petunjuk atau cara kerja bagi peneliti dalam mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam penelitian, dan operasional juga dapat menetukan apakah bahan masalah yang dapat diteliti itu layak atau tidak untuk diteliti.

Definisi operasional kreatifitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk ciri–ciri aptitude maupun non aptitude, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal–hal yang sudah ada, yang semuanya itu relative berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.

Sedangkan menurut Munandar (dalam Basuki, 2010), “Kreativitas merupakan kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan originalitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci suatu gagasan).”

BAB II

PEMBAHASAN 

TEORI-TEORI MENGENAI KREATIVITAS

Teori-teori yang melandasi pembentukan pribadi kreatif :

1. Teori Psikoanalisis

Psikoanalisa memandang kreativitas sebagai hasil mengatasi suatu masalah, yang biasanya dimulai sejak di masa anak-anak. Priadi kreatif dipandang sebagai seseorang yang pernah mempunyai pengalaman traumatis, yang dihadapi dengan memungkinkan gagasan-gagasan yang disadari dan yang tidak disadari bercampur menjadi pemecahan inovatif dari trauma.

Adapun tokoh-tokohnya adalah:

a. Sigmund Freud

Ia menjelaskan bahwa proses kreatif timbul dari mekanisme pertahanan (defence mechanism). Freud percaya bahwa meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif,mekanisme sublimasi( yaitu suatu bentuk pertahanan dengan perbutan-perbuatan mulia untuk menutupi kegagalan-kegagalan yang telah dilakukan) justru merupakan penyebab utama timbulnya karya-karya kreatif. Misalnya kebutuhan seksual yang tidak dapat di penuhi (jadi merupakan kegagalan), maka terjadi sublimasi dan sublimasi ini merupakan awal dari imajinasi (Utami Munandar,1999).

Macam mekanisme pertahanan adalah :

  • Represi, yaitu secara tidak sadar melupakan kenangan tidak menyenangkan untuk diingat
  • Kompensasi, yaitu berusaha mengimbangi ketidakmampuan yang dilakukan secara tidak sadar dengan menonjolkan pada hal lain.
  • Sublimasi yaitu jika tudak mampu memenuhi dorongan seks, mengimbangi dengan kreativitas di bidang seni misalnya menjadi pemain biola.
  • Rasionalisasi,yaitu menjadi percaya bahwa suatu kondisi yang bertentangan dengan apa yang diinginkan sesungguhnya adalah memang hal yang diinginkan, misalnya karena tidak berhasil mendapatkan tiket untuk melihat pertandingan sepak bola kemudian mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak tertarik untuk pergi
  • Identifikasi, yaitu ingin menjadi seperti seseorang dengan menerima standar dan nilai orang itu menjadi standar dan nilai diri sendiri.
  • Introjeksi, yaitu menerima standar dan nilai seseorang karena takut untuk tidak sependapat dengan dia
  • Regresi, yaitu kembali keperilaku sebelumnya berhasil jika prilaku saat ini tidak berhasil, misalnya menangis ketika mendapat nilai rendah dengan harapan guru akan mengubah nilainya.
  • Proyeksi, yaitu menganggap seseorang memiliki perasaan terhadap seseorang yang sebaliknya dari perasaan yang sesungguhnya terhadap dia.
  • Pembentukan reaksi, yaitu pengalihan implus yang menimbulkan kecemasan ke implus lawannya, musalnya apabila seseorang merasa benci atau dendam pada orang lain dan kebencian itu menimbulkan kecemasan pada dirinya,maka orang tersebut menampilkan perilaku sayang atau kasih (cinta) untuk menyembunyikan rasa benci tersebut.
  • Pemindahan, yaitu jika takut mengukapkan perasaan terhadap seseorang, perasaan itu di ungkapkan terhadap seseorang yang kurang kuasa, misalnya karena takut menyatakan kemarahan kepada atasan, maka marah-marah pada anak.
  • Kompartementalisasi, yaitu mempunyai dua kepercayaan yang saling bertentangan pada saat yang sama, misalnya meskipun ia sebetulnya bodoh, tetapi ia pintar berhitung. (Freud,S. 1993. Introductory Lectures on Psychoanalysis, dalam Utami Munandar, 1999)

b. Ernest Kris

Ia menekankan bahwa mekanisme pertahanan regresi (beralih ke perilaku sebelumnya yang akan memberi kepuasaan, jika perilaku sekarang tidak berhasil atau tidak memberi kepuasaan) juga sering muncul dalam tindakan kreatif.

c. Carl Jung

Ia juga percaya bahwa ketidaksadaran memainkan peranan yang amat penting dalam kreativitas tingkat tinggi. Alam pikiran yang tidak disadari dibentuk oleh masa lalu pribadi. Dengan adanya ketidaksadaran kolektif, akan timbul penemuan, teori, seni, dan karya-karya baru lainnya. Prose inilah yang menyebabkan kelanjutan dari eksistensi manusia.

2. Teori Humanistik

Humanistik lebih menekankan kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi. Dan kreativitas dapat berkembang selama hidup dan tidak terbatas pada usia lima tahun pertama.

a. Abraham Maslow

Ia menekankan bahwa manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan itu, diwujudkan Maslow sebagai hirarki kebutuhan manusia, dari yang terendah hingga yang tertinggi.

b. Carl Rogers

Ia menjelaskan ada 3 kondisi dari pribadi yang kreatif, adalah keterbukaan terhadap pengalaman, kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan Patokan pribadi seseorang, kemampuan untuk bereksperiman atau untuk ‘bermain’ dengan konsep-konsep.

Tiga kondisi internal pribadi yang kreatif yaitu :

  1. Keterbukaan terhadap pengalaman
  2. Kemampuan untuk menilai situasi sesuai patokan pribadi seseorang (internal locus of evaluation)
  3. Kemampuan untuk bereksperimen,untuk “bermain” dengan konsep-konsep. Apabila seseorang memiliki ketika ciri ini amaka kesehatan psikologisnya sangat baik. Orang tersebut akan dapat berfungsi sepenuhnya dan menghadilkan karya-karya kreatif, dan hidup secara kreatif apabila kondisi lingkungan mendukung. Ketiga ciri atau kondisi tersebut juga merupakan dorongan dari dalam (internal press) untuk berkreasi (Utami Munandar,1999).

3. Teori Csikszentmihalyi

Ciri pertama yang memudahkan tumbuhnya kreativitas adalah Predisposisi genetis (genetic predispotition). Contoh seorang yang system sensorisnya peka terhadap warna lebih mudah menjadi pelukis, peka terhadap nada lebih mudah menjadi pemusik.

  • Ciri pertama yang memudahkan tumbuhnya kreativitas adalah predisposisi genetis (genetic predisposition). Contoh seseorang yang sistem sensorinya peka terhadap warna lebih mudah menjadi pelukis, peka terhadap nada lebih mudah menjadi pemusik.
  • Minat pada usia dini pada ranah tertentu. Minat menyebabkan seseorang terlibat secara mendalam terhadap ranah tertentu, sehingga mencapai kemahiran dan keunggulan kreativitas.
  • Akses terhadap suatu bidang. Adanya sarana dan prasarana serta adanya pembina/mentor dalam bidang yang diminati   sangat membantu pengembangan bakat.
  • Orang-orang kreatif ditandai adanya kemampuan mereka yang luar biasa untuk menyesuaikan diri terhadap hampir setiap situasi dan untuk melakukan apa yang perlu untuk mencapai tujuannya.
  • Accessto a field. Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sejawat + tokoh-tokoh penting dalam bidang yang digeluti, memperoleh informasi yang terakhir, mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan pakar-pakar dalam b idang yang diminati sangat penting untuk mendapatkan pengakuan + penghargaan dari orang-orang penting.

BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN

Kreativitas merupakan usaha melibatkan diri pada proses kreatif yang didasari oleh intelegensi, gaya kognitif, dan kepribadian/motivasi, juga merupakan kemampuan untuk menghasilkan atau mencipta sesuatu yang baru.

Strategi 4P yaitu Pribadi, Pendorong, Proses, dan Produk yang menurut para ahli dapat membantu mengembangkan kreatifitas anak jika diterapkan secara benar. Pada dasarnya setiap anak memiliki kreativitas, hanya saja tidak semua anak bisa mengembangkan kreatifitasnya dengan benar. Untuk itu diperlukan peran orang tua dalam mengembangkan kreatifitas tersebut. Teori pembentukan pribadi kreatif didasari oleh 3 teori yaitu psikoanalisa, humanistic dan Csikzentmihalyi.

2. SARAN

Kajian-kajian tentang pengembangan kreativitas & keberbakatan masih sangat perlu untuk ditingkatkan, karena kreativitas & keberbakatan sangat penting bagi dosen sebagai tenaga pendidik untuk dapat memahami cara berpikir peserta didiknya.

DAFTAR PUSTAKA

http://sharahhanifah.blogspot.com/2015/03/pengertian-kreativitas-dan-teori.html 19-03-2015/17:48

http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.1 19-03-2015/17:48

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

TALKSHOW HIV/AIDS

TALKSHOW HIV/AIDS WE CARE WE SHARE

Sertifikat - RK 2

Seminar ini merupakan seminar penyuluhan tentang Bahaya Penularan HIV AIDS yang dilakukan oleh mahasiwa/i UNIVERSITAS GUNADARMA.

Tema yang disajikan sangat menarik mengingat bahwa sekarang banyak orang yang kurang peduli akan orang-orang di sekitar kita yang mungkin terinveksi HIV/AIDS. Pada seminar ini dibahas mengenai bahaya sex bebas dan juga cara menyikapi ODA atau orang yang sedang mengidap penyakit AIDS.

Acara ini dibuka langsung oleh ketua Pelaksana Ramadhafi, kemudian dilanjutkan dengan beberapa presentasi dan tanya jawab dari berbagai narasumber dan pembicara.

Adapun materi yang di sampaikan dalam seminar tersebut  :

  • Perkenalan Program dari Yayasan Rumah Sebaya.
  • Penjelasan mengenai bahaya HIV AIDS serta cara-cara penularannya dan bagaimana cara mencegahnya.
  • Tanya jawab dengan Narasumber.

Acara pertama dibuka dengan memperkenalkan apasih yang dilakukan di Yayasan Rumah Sebaya untuk membantu para penderita HIV/AIDS atau orang-orang yang ingin memeriksakan dirinya apakah positif atau tidak. Yayasan ini juga mempunyai situs internet yang bisa di akses kapan saja dan dimana saja.

Seperti kita ketahui, dengan berkembangnya waktu, tak seorang pun kini aman dari HIV/AIDS. Penyakit yang belum ada obatnya itu bukan hanya mengancam kelompok-kelompok yang disebut berperilaku “berisiko” tetapi kita semua. Maka alangkah baiknya jika kita masing-masing mengetahui status HIV kita sendiri dan pasangan, sehingga kita turut berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan penangggulangan HIV/AIDS di Indonesia, dengan harapan tidak terjadi “ledakan” di kemudian hari.

Sesi kedua, yaitu menjelaskan mengenai bahaya dari HIV/AIDS.

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, sebuah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome. AIDS muncul setelah virus (HIV) menyerang sistem kekebalan tubuh kita selama lima hingga sepuluh tahun atau lebih. Sistem kekebalan tubuh menjadi lemah, dan satu atau lebih penyakit dapat timbul. Karena lemahnya sistem kekebalan tubuh tadi, beberapa penyakit bisa menjadi lebih parah daripada biasanya.

HIV terdapat dalam sebagian cairan tubuh, yaitu:

  1. Darah
  2. Air mani
  3. Cairan vagina
  4. Air susu ibu (ASI)

HIV menular melalui:

  1. Bersenggama yang membiarkan darah, air mani, atau cairan vagina dari orang HIV-positif masuk ke aliran darah orang yang belum terinfeksi (yaitu senggama yang dilakukan tanpa kondom melalui vagina atau dubur; juga melalui mulut, walau dengan kemungkinan kecil).
  2. Memakai jarum suntik yang bekas pakai orang lain, dan yang mengandung darah yang terinfeksi HIV.
  3. Menerima transfusi darah yang terinfeksi HIV.
  4. Dari ibu HIV-positif ke bayi dalam kandungan, waktu melahirkan, dan jika menyusui sendiri.

Biasakan mempunyai sikat gigi dan pisau cukur sendiri, karena selain untuk kebersihan pribadi, jika terdapat darah akan ada risiko penularan dengan virus lain yang diangkut aliran darah (seperti hepatitis), bukan hanya HIV.

HIV tidak menular melalui:

  1. Bersalaman, berpelukan
  2. Berciuman
  3. Batuk, bersin
  4. Memakai peralatan rumah tangga seperti alat makan, telepon, kamar mandi, WC, kamar tidur, dll.
  5. Gigitan nyamuk
  6. Bekerja, bersekolah, berkendaraan bersama
  7. Memakai fasilitas umum misalnya kolam renang, WC umum, sauna, dll.

HIV tidak dapat menular melalui udara. Virus ini juga cepat mati jika berada di luar tubuh. Virus ini dapat dibunuh jika cairan tubuh yang mengandungnya dibersihkan dengan cairan pemutih (bleach) seperti Bayclin atau Chlorox, atau dengan sabun dan air. HIV tidak dapat diserap IV oleh kulit yang tidak luka.

1Gejala atau Tahapan-Tahapan HIV menjadi AIDS

Tahapan-tahapan HIV menjadi AIDS memiliki gejala-gejala sebagai berikut:

  1. Tahap awal infeksi HIV, gejalanya mirip influenza (demam, rasa lemah, lesu, sendi terasa nyeri, batuk, nyeri tenggorokan, dan pembesaran kelenjar). Gejala ini biasanya hanya berlangsung beberapa hari atau beberapa minggu saja, lalu hilang dengan sendirinya.
  2. Tahap tanpa gejala, meskipun ia tidak menunjukkan gejala, tetapi pada tes darah ditemukan antibodi HIV dan disebut HIV+. Masa ini dapat berlangsung bertahun-tahun (5-7) tahun.
  3. Tahap ARC (AIDS Related Complex),munculgejala-gejala AIDS. ARC adalah istilah bila didapati dua atau lebih gejala yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih, yaitu demam disertai keringat malam, penurunan berat badan lebih dari 10%, kelemahan tubuh yang mengganggu aktivitas sehari-hari, pembesaran kelenjar secara lebih luas, diare (mencret) berkala atau terus-menerus dalam waktu lama tanpa sebab yang jelas, batuk dan sesak napas lebih dari satu bulan, kulit gatal dan bercak-bercak merah kebiruan, sakit tenggorokan dan pendarahan yang tak jelas sebabnya.
  4. Tahap AIDS, muncul infeksi lain yang berbahaya (TBC, jamur, dan lain-lain) karena kekebalan tubuh telah demikian rusak, yang disebut infeksi oportunistik. Disamping itu, dapat terjadi kanker kulit dan kanker kelenjar getah bening.
  5. Tahap gangguan otak (susunan saraf pusat), pada tahap ini dapat mengakibatkan kematian sel otak dan gangguan mental. Gangguan mental yang terjadi berupa demensia (gangguan daya ingat), penurunan kesadaran, gangguan psikotik, depresi, dan gangguan saraf lainnya.

Orang yang Beresiko Tertular Virus HIV/AIDS

Pada dasarnya setiap manusia memiliki potensi untuk tertular Virus HIV/AIDS. Namun ada beberapa orang yang beresiko tinggi tertular virus HIV/AIDS, yakni:

  1. Mereka yang melakukan hubungan seksual dengan orang yang terkena HIV/AIDS tanpa menggunakan pengaman (kondom-red).
  2. Orang yang berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan yang beresiko tinggi seperti pelacur dan homoseksual.
  3. Orang yang mendapat tansfusi darah yang tercemar virus HIV.
  4. Penggunaan alat suntik secara bergantian tanpa melalui proses sterilisasi.
  5. Anak yang lahir dari ibu yang mengidap virus HIV.
  6. Orang yang karena pekerjaannya sering berhubungan dengan penderita HIV/AIDS seperti dokter, perawat, petugas transfusi darah, bidan, dan sebagainya. Aktivitas tersebut akan menjadi pintu masuk bagi virus HIV/AIDS

Sesi selanjutnya mengenai psikologis, yaitu cara kita menyikapi orang-orang yang terinveksi HIV AIDS.

    3

Sumber dari dukungan sosial ini adalah orang lain yang akan berinteraksi dengan individu sehingga individu tersebut dapat merasakan kenyamanan secara fisik dan psikologis. Orang lain ini terdiri dari pasangan hidup, orang tua, saudara, anak, kerabat, teman, rekan kerja, staf medis serta anggota dalam kelompok kemasyarakatan.

Bentuk Dukungan

Adapun bentuk dukungan tersebut terbagi menjadi 5 . Yaitu :

  1. Dukungan instrumental (tangible assisstance)

Bentuk dukungan ini merupakan penyediaan materi yang dapat memberikan pertolongan langsung seperti pinjaman uang, pemberian barang, makanan serta pelayanan. Bentuk dukungan ini dapat mengurangi stress karena individu dapat langsung memecahkan masalahnya yang berhubungan dengan materi. Dukungan instumental sangat diperlukan terutama dalam mengatasi masalah dengan lebih mudah.

  1. Dukungan informasional

Bentuk dukungan ini melibatkan pemberian informasi, saran atau umpan balik tentang situasi dan kondisi individu, Jenis informasi seperti ini dapat menolong individu untuk mengenali dan mengatasi masalah dengan lebih mudah.

  1. Dukungan emosional

Bentuk dukungan ini membuat individu memiliki perasaan nyaman, yakin, diperdulikan dan dicintai oleh sumber dukungan sosial sehingga individu dapat menghadapi masalah dengan lebih baik. Dukungan ini sangat penting dalam menghadapi keadaan yang dianggap tidak dapat dikontrol.

  1. Dukungan pada harga diri

Bentuk dukungan ini berupa penghargaan positif pada individu, pemberian semangat, persetujuan pada pendapat induividu, perbandingan yang positif dengan individu lain. Bentuk dukungan ini membantu individu dalam membangun harga diri dan kompetensi.

  1. Dukungan dari kelompok sosial

Bentuk dukungan ini akan membuat individu merasa anggota dari suatu kelompok yang memiliki kesamaan minat dan aktifitas sosial dengannya. Dengan begitu individu akan merasa memiliki teman senasib.

Dampak Dukungan Sosial

Bagaimana dukungan sosial dapat memberikan kenyamanan fisik dan psikologis kepada individu dapat dilihat dari bagaimana dukungan sosial mempengaruhi kejadian dan efek dari stress. Lieberman (1992) mengemukakan bahwa secara teoritis dukungan sosial dapat menurunkan kecenderungan munculnya kejadian yang dapat mengakibatkan stress. Apabila kejadian tersebut muncul, interaksi dengan orang lain dapat memodifikasi atau mengubah persepsi individu pada kejadian tersebut dan oleh karena itu akan mengurangi potensi munculnya stress.

Dukungan sosial juga dapat mengubah hubungan anatara respon individu pada kejadian yang dapat menimbulkan stres dan stres itu sendiri, mempengaruhi strategi untuk mengatasi stres dan dengan begitu memodifikasi hubungan antara kejadian yang menimbulkan stres mengganggu kepercayaan diri, dukungan sosial dapat memodifikasi efek itu.

Khususnya bagi ODA maka dukungan moril yang di butuhkan adalah keluarga, dimana keluarga merupakan orang yang paling terdekat, terus beri dukungan moril berupa kasih sayang, jangan membedakan antara orang normal dengan penderita ODA.

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

COACHING CLINIC

COACHING CLINIC with JUBING KRISTIANTO

Sertifikat - RK

Biografi Gitaris : Jubing Kristianto

Jubing Kristianto adalah salah satu gitaris Indonesia yang namanya sudah cukup terkenal. Gitaris yang menerapkan teknik finger style dalam permainan gitarnya ini lahir di Semarang pada tanggal 9 April 1966.

Jubing sudah mulai tampil di atas panggung dengan instrumen gitar pada usia 12 tahun dalam pentas untuk mengiringi teman-teman sekolahnya. Jubing mulai tertarik bermain gitar tunggal setelah melihat dan terpikat oleh permainan gitar temannya. Pada usia 14 tahun, Jubing memperdalam kemampuan bermain gitarnya dengan menimba ilmu kepada Suhartono Lukito dan Arthur Sahelangi di Yamaha Music School, Semarang dan Jakarta.

Pada tahun 1982, Jubing masuk dalam final kompetisi gitar yang bertajuk “Yamaha Festival Gitar Indonesia” (YFGI) untuk kategori bebas atau non klasik. Sejak itu, Jubing kerap mengikuti YFGI, dan Jubing selalu memilih kategori bebas. Pada akhirnya, empat gelar juara I (tahun 1987, 1992, 1994, dan 1995) ia raih. Pada tahun 1984 ia meraih Distinguished Award pada Festival Gitar Yamaha se-Asia Tenggara di Hongkong.

Setamat SMA tahun 1985, Jubing kuliah di jurusan Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Universitas Indonesia dan lulus tahun 1992. Selain itu, pada tahun 1990 Jubing menjadi jurnalis tabloid Nova. Keseriusannya dalam dunia musik membuat Jubing berhenti menjadi jurnalis pada tahun 2003 (setelah 13 tahun menjadi jurnalis).

Setelah memutuskan berhenti menjadi jurnalis, Jubing fokus pada dunia pergitaran. Pada tahun 2005, Jubing bergabung dengan Quartet Punakawan yang beranggotakan Jubing Kristianto (gitar), Jaya Suprana (piano),Heru Kusnadi (bass), dan  Junaedi Musliman (perkusi). Quartet Punakawan mempopulerkan lagu-lagu daerah Indonesia dalam pentas-pentasnya yang sudah menginjak 4 negara yaitu Indonesia, Jepang, Australia, dan Sigrapura.

Pada tahun 2007, Jubing menelurkan album solo gitar perdananya yang diberi judul “Becak Fantasy” dimana pada album ini Jubing banyak mengaransemen lagu-lagu daerah Indonesia dan lagu anak-anak. Setelah peluncuran album pertamanya, berturut-turut Jubing mengeluarkan 3 album berikutnya yaitu “Hujan Fantasy” (2008), “Delman Fantasy” (2009), dan “Kaki Langit” (2011). Majalah  memasukkan album Becak Fantasy sebagai “The Best 20 Indonesian Albums of 2008″. Selain menjadi musisi, Jubing juga menjadi pengajar sekaligus endorser pada Yamaha Musik Indonesia.

Walaupun sudah berhenti menjadi jurnalis, nampaknya nalurinya sebagai jurnalis tidak luntur, hal ini dibuktikan dengan dua buah judul buku yang ia tulis yaitu : Gitarpedia: Buku  Pintar Gitaris (2007) dan Membongkar Rahasia Chord Gitar (2008) yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Selain itu, Jubing juga menjadi penulis reguler pada 2 majalah musik Indonesia yaitu “Staccato” dan “GitarPlus“.

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment